PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Maumere – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Negeri Habibola, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, tidak hanya menjadi momentum mengenalkan lingkungan pendidikan kepada peserta didik baru. Hari pertama kegiatan, Senin (13/7/2026), juga dimanfaatkan sekolah untuk menanamkan nilai budaya, karakter, dan semangat belajar melalui prosesi adat Huler Wair
Tradisi penyambutan tersebut mendahului apel pembukaan MPLS sebagai simbol penerimaan peserta didik baru ke dalam keluarga besar SMKN Habibola. Prosesi itu juga menjadi doa dan harapan agar seluruh siswa dapat menempuh pendidikan dengan lancar, berkarakter, dan menyelesaikan studi hingga lulus.
Pelaksanaan MPLS tahun ajaran 2026/2027 berlangsung selama lima hari, mulai 13 hingga 17 Juli 2026. Berdasarkan data sekolah, sebanyak 40 peserta didik baru telah mendaftar, namun pada hari pertama sebanyak 33 siswa mengikuti kegiatan, sementara tujuh siswa lainnya belum hadir.
Baca juga: Atap Bocor, Harapan Menetes: Pidelis Liseng dan Maria Pinteja Menanti Uluran Tangan
Meski sebagian tenaga pendidik sedang mengikuti program peningkatan kompetensi di luar daerah, seluruh agenda MPLS tetap berjalan sesuai jadwal. Saat ini SMKN Habibola memiliki 16 tenaga pendidik dan kependidikan yang terdiri atas 14 guru, satu tenaga administrasi (PTU), dan seorang penjaga sekolah.
Empat guru diketahui sedang mengikuti pelatihan bidang pertanian di Oekam Soe selama enam bulan. Selain itu, enam guru lainnya mengikuti pelatihan di SMKN Talibura yang berlangsung pada 13 hingga 17 Juli 2026.
Rangkaian kegiatan hari pertama diawali dengan salam penyambutan peserta didik baru, prosesi Huler Wair, upacara bendera, pengenalan diri, penyampaian materi Wawasan Wiyata Mandala, materi “Aku dan Sekolahku”, “Aku dan Sekitarku”, “Aku Anak Indonesia Hebat”, pendidikan karakter, keamanan digital, hingga refleksi, doa, dan penutupan.
Kepala SMKN Habibola, Anggelinus Heni, S.E., mengatakan seluruh rangkaian kegiatan hari pertama terlaksana sesuai dengan perencanaan sekolah. Menurutnya, penyambutan melalui tradisi Huler Wair menjadi bagian dari upaya sekolah mengintegrasikan nilai budaya lokal dengan dunia pendidikan.