Pembelajaran etika melalui kurikulum formal sekolah seperti Profil Pelajar Pancasila saat ini juga masih terjebak pada pendekatan teoritis. Oleh karena itu, mengatasi disorientasi ini membutuhkan langkah praktis dan konkret yang nyata dari berbagai pihak. Pertama, sekolah harus menerapkan kurikulum “Digital Citizenship” (Kewargaan Digital) untuk melatih pelajar memverifikasi informasi. Kedua, latih sikap asertif siswa secara berkala agar berani menolak ajakan negatif, didukung gerakan “Jam Bebas Gawai” oleh orang tua di rumah.
Mengakui bahwa ruang virtual telah mengubah lanskap psikologis remaja secara drastis adalah langkah awal yang krusial. Jika seluruh pemangku kepentingan berkolaborasi membentuk nalar kritis anak, teknologi dapat diubah menjadi sarana positif. Membentengi pelajar dari jeratan perilaku menyimpang berarti membentuk mereka menjadi pribadi yang merdeka secara etis. Pada akhirnya, mereka akan memilih jalan yang benar karena menghargai kehormatan diri sendiri dan masa depan bangsa.
Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.