Pergaulan Bebas dan Disorientasi Moral Generasi Digital

"Dahulu, kontrol terhadap remaja dilakukan bersama oleh keluarga besar, komunitas keagamaan, hingga warga sekitar rumah. Namun sekarang, pengawasan fisik kehilangan taring karena pelajar bisa menjelajah dunia luar langsung dari kamarnya. Melalui ponsel, mereka rentan menghadapi bahaya laten seperti judi online, prostitusi daring, atau perundungan siber (cyberbullying)".
Penulis, Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris Unika Santo Paulus Ruteng.

Pembelajaran etika melalui kurikulum formal sekolah seperti Profil Pelajar Pancasila saat ini juga masih terjebak pada pendekatan teoritis. Oleh karena itu, mengatasi disorientasi ini membutuhkan langkah praktis dan konkret yang nyata dari berbagai pihak. Pertama, sekolah harus menerapkan kurikulum “Digital Citizenship” (Kewargaan Digital) untuk melatih pelajar memverifikasi informasi. Kedua, latih sikap asertif siswa secara berkala agar berani menolak ajakan negatif, didukung gerakan “Jam Bebas Gawai” oleh orang tua di rumah.

Mengakui bahwa ruang virtual telah mengubah lanskap psikologis remaja secara drastis adalah langkah awal yang krusial. Jika seluruh pemangku kepentingan berkolaborasi membentuk nalar kritis anak, teknologi dapat diubah menjadi sarana positif. Membentengi pelajar dari jeratan perilaku menyimpang berarti membentuk mereka menjadi pribadi yang merdeka secara etis. Pada akhirnya, mereka akan memilih jalan yang benar karena menghargai kehormatan diri sendiri dan masa depan bangsa.

 

 

 

Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.

 

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru