Kehadiran Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai uskup penahbis memberi makna tersendiri bagi para calon diakon. Dalam tradisi Gereja Katolik, tahbisan diakon merupakan penyerahan diri secara resmi untuk melayani Sabda, altar, dan karya kasih di tengah umat.
Di tengah dunia modern yang semakin individualistis, pilihan hidup Frater Roni menjadi kesaksian bahwa masih ada generasi muda yang memilih jalan pelayanan dan pengabdian. Panggilan religius bukan tentang mencari kenyamanan hidup, melainkan kesiapan untuk memberi diri demi sesama.
Perjalanan hidup Frater Roni Subun memperlihatkan bahwa panggilan lahir dari pengalaman iman yang mendalam. Dari Kiupunu menuju Ledalero, dan kelak menuju Madagaskar, perjalanan hidupnya menjadi kisah tentang keberanian menjawab panggilan Tuhan.
Tahbisan diakon pada 31 Mei 2026 mendatang akan menjadi awal baru dalam perjalanan pelayanannya. Sebuah langkah menuju hidup yang semakin dipersembahkan bagi Gereja dan umat manusia.
Dan seperti moto tahbisannya, Frater Roni ingin terus menjadi pribadi yang tidak hanya melihat Tuhan dalam doa, tetapi juga menghadirkan wajah Tuhan melalui pelayanan dan kasih kepada sesama.