PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Jakarta— Kotak suara dalam sebuah pemilihan umum tidak sekadar menjadi tempat menampung surat suara. Di balik kotak tersebut tersimpan harapan, pilihan, bahkan pertaruhan masa depan masyarakat yang telah menggunakan hak politiknya.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Bawaslu RI, Dr. H. Puadi, S.Pd., M.M., saat menjadi keynote speaker dalam Diskusi Publik dan Launching Novel Di Balik Kotak Suara karya Badrul Munir dengan tema “Demokrasi dalam Sastra, Sastra dalam Demokrasi”, Sabtu, 12 September 2026, di Aula PDS HB Jassin, Gedung Ali Sadikin Lt. 4, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Dalam pemaparannya, Puadi menegaskan bahwa proses demokrasi tidak berhenti pada penghitungan suara dan penetapan hasil Pemilu. Lebih jauh dari itu, setiap suara yang masuk ke dalam kotak suara merupakan representasi dari pilihan dan harapan warga negara.
Baca juga: Duka di Sikka: Jenazah Dokter Hewan Alfonsius Mehan, Korban Penembakan OPM di Nduga, Tiba di Maumere
“Di balik kotak suara bukan hanya ada hasil pemilu, tetapi di sana ada harapan setiap orang yang sudah menentukan pilihan,” tegas Puadi.
Pernyataan tersebut menempatkan Pemilu bukan semata sebagai mekanisme pergantian kekuasaan, melainkan sebagai proses sosial yang memiliki dimensi kemanusiaan. Setiap pilihan politik yang diberikan masyarakat membawa cerita, pertimbangan, pengalaman, dan harapan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sastra Menjadi Ruang Merawat Demokrasi
Baca juga: Vox Populi, Vox Dei: Perlukah Suara Rakyat Didefinisi Ulang?
Peluncuran novel Di Balik Kotak Suara karya Badrul Munir kemudian menjadi ruang untuk melihat demokrasi dari perspektif yang berbeda. Jika demokrasi selama ini banyak dibicarakan melalui perspektif politik, hukum, kelembagaan, dan elektoral, karya sastra menghadirkannya melalui pengalaman manusia dan cerita di balik proses politik.