Kumpulan Kelima puisi ini adalah satu perjalanan cinta dari janji, penantian, hingga kepulangan. Kalau dibaca berurutan, ceritanya nyambung seperti babak dalam hubungan. Pada judul “Tunggu Aku Pulang” Arnold membuka dengan berkisah soal komitmen di tengah jarak. Ada rindu yang dijaga, ada permintaan “jangan pergi dulu”. Suasananya kuat, penuh tekad. Ini fondasi hubungan: _aku akan pulang, genggam tanganku saat badai datang_. Jadi titik awal dari semua puisi lain. Kemudian berlanjut pada “Janji di Ujung Senja”, bisa dikatakan sebagai Babak Ikrar. Kalau puisi Pertama, adalah janji sepihak, puisi kedua dinarasikan sebagai janji berdua. Senja jadi saksi dua orang yang sama-sama takut kehilangan. Setelah bilang “tunggu”, di sini keduanya mengikat janji bareng-bareng.
“Kau, Secangkir Kopi Pagi”, lebih pada suatu kisah keseharian, dari janji besar, kita turun ke hal kecil. Cinta ternyata bukan cuma soal sumpah, tapi soal rasa aman tiap pagi. “Pahitnya jujur, hangatnya menepi” pasangan yang jadi rumah. Puisi ini jadi penyeimbang: setelah drama penantian, cinta juga tentang tenang dan jadi alas di meja yang berantakan. Pada puisi keempat, Arnold mempertanyakan “kenapa harus LDR/jauh?” Jawabannya: ruang tak bernama itu cara semesta menjaga. Cinta dewasa paham bahwa temu tak harus tiap hari agar tetap istimewa. Setelah tahu rasanya “rumah”, pasangan belajar ikhlas dengan ruang dan waktu.
Akhirnya ditutup dengan “Pelabuhan Terakhir”, sebagai penutup dari semua penantian. Setelah janji, rutinitas, dan kedewasaan, puisi ini bicara keputusan: _berhenti mencari, kau tempat pulang_. “Mercusuar” di puisi 1 akhirnya ketemu di sini. Lingkaran selesai. Dari “tunggu aku pulang” di puisi 1, berakhir di “inilah pelabuhan terakhirTunggu aku pulang, jangan pergi dulu
Ada rindu yang kutitip di setiap waktu
Namamu kuukir di sela doa pagiku
Agar semesta tahu, aku hanya untukmu
Baca juga: Kumpulan Puisi || Cle Laotze
Hujan turun pun tak mampu padamkan
Api rindu yang diam-diam kubangun
Kau rumah, kau pulang, kau alasan
Aku bertahan di antara ribuan keraguan
Jika nanti badai datang mengguncang
Genggam tanganku, kita hadapi bersama sayang
JANJI DI UJUNG SENJA
Baca juga: Kumpulan Puisi Arnold Bewat: Menyusuri Rasa di Antara Kata dan Keheningan
Langit jingga jadi saksi bisu kita
Saat kau ucap “jangan pergi” pertama
Matamu tenang, tapi gemetar suara
Aku tahu, hatimu juga sedang bicara
