Gayung Kamar Mandi | Cerpen Felix Sugar |

“Memangnya gayung itu sudah tidak bisa dipakai?”  “Sudah tua Nek.” “Barang tua bukan berarti tidak berguna.” Aku terdiam. Nenek kembali bekerja, sementara aku memandang gayung yang terletak di dekat sumur.
Ilustrasi

“Nek, kenapa gayung itu dijaga sekali?” Nenek berhenti sejenak. Ia mengusap tangannya dengan kain kecil, lalu duduk di bangku pendek dekat pintu. “Gayung ini sudah lama sekali,” katanya. “Dulu, waktu Nenek baru menikah dengan Kakekmu, kami membeli beberapa barang untuk rumah. Tidak banyak. Uang kami juga sedikit. Gayung itu salah satunya.” Ia menatap benda biru itu. “Dulu kami belum punya banyak apa-apa. Rumah juga masih sederhana. Tapi kami berusaha melengkapi sedikit demi sedikit. Gayung itu dibeli dengan uang hasil kerja kami sendiri.” Aku duduk di sampingnya. “Masih ingat harganya, Nek?” Nenek tertawa kecil. “Sudah lupa. Yang Nenek ingat, waktu itu kami senang sekali bisa membeli barang untuk rumah sendiri.” Ia kemudian bercerita tentang masa ketika Kakek masih hidup. Mereka bekerja di kebun, mengurus rumah, dan menabung sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan. Tidak semua hari berjalan baik. Ada masa ketika hasil kebun buruk, ada pula masa ketika mereka harus meminjam uang untuk membeli kebutuhan penting. Kakek sudah lama meninggal. Banyak barang dari masa pernikahan mereka yang telah rusak, hilang, atau terpaksa dijual ketika kebutuhan mendesak datang. Namun, gayung itu masih ada.

“Jadi, Nenek sayang sekali sama gayung itu?” tanyaku. Nenek tersenyum tipis. “Bukan karena gayungnya bagus. Sudah jelek begini.” “Lalu?” “Karena banyak yang sudah tidak ada. Kalau barang yang masih bisa dipakai dibuang begitu saja, kita mau menyimpan apa?” Aku tidak langsung menjawab. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat gayung tersebut dengan cara berbeda. Aku masih melihat plastik biru yang kusam, gagang yang bengkok, dan bagian bawah yang penuh goresan. Namun, di balik semuanya, ada sesuatu yang tidak bisa kulihat sebelumnya: waktu. Gayung itu telah berada di rumah kami lebih lama daripada ingatanku sendiri. Ia menyaksikan Kakek dan Nenek memulai kehidupan bersama, menyaksikan rumah mereka perlahan terisi barang-barang sederhana, dan tetap bertahan ketika orang-orang yang pernah menggunakannya satu demi satu pergi. Aku tidak pernah menyangka sebuah gayung bisa menyimpan begitu banyak cerita.

Tahun-tahun berlalu. Aku tumbuh menjadi remaja, sementara tubuh Nenek semakin rentan. Rambutnya memutih, pendengarannya mulai berkurang, dan langkahnya tidak lagi secepat dulu. Aku sudah bisa membantu lebih banyak pekerjaan rumah, tetapi Nenek tetap berusaha melakukan semuanya sendiri. Jika aku menyuruhnya beristirahat, ia akan berkata bahwa ia belum terlalu tua. Jika aku mengambil alih pekerjaan menyiram sayuran, ia akan mengingatkanku agar tidak membuang-buang air. Jika gayung itu terjatuh, ia masih akan memarahiku. Bedanya, aku tidak lagi merasa kesal. Aku mulai mengerti bahwa kemarahan Nenek sering kali lahir dari rasa takut kehilangan. Ia takut barang yang kami miliki rusak, sebab menggantinya membutuhkan uang. Ia takut tanaman gagal tumbuh, sebab hasilnya akan menentukan apa yang bisa kami makan. Ia takut jatuh sakit terlalu lama, sebab ia tahu aku belum sepenuhnya mampu mengurus diriku sendiri. Di usia tuanya, Nenek masih berusaha menjadi orang yang paling kuat di rumah kami, meskipun aku tahu ia juga sering kelelahan. Ada hari-hari ketika ia duduk lama di teras setelah bekerja di kebun. Tangannya terletak di atas lutut, sementara napasnya terdengar berat. Aku pernah melihatnya memijat betisnya sendiri ketika mengira aku tidak memperhatikan.

“Nenek sakit?” tanyaku. “Cuma capek.” “Besok tidak usah ke kebun dulu.” Ia tersenyum. “Kalau tidak ke kebun, nanti kita makan apa?” Aku tidak punya jawaban. Begitulah Nenek. Bahkan ketika tubuhnya meminta istirahat, pikirannya tetap sibuk memikirkan kebutuhan kami. Ia tidak memiliki tabungan yang cukup, tidak memiliki penghasilan tetap, dan tidak tahu kapan bantuan akan datang. Yang ia punya hanyalah tanah kecil, tenaga yang tersisa, dan keyakinan bahwa selama masih bisa bekerja, kami tidak boleh menyerah. Aku mulai membantunya lebih sering. Setiap pagi aku mengambil air dari sumur dan menyiram sayuran. Setelah itu, aku membersihkan kamar mandi, mencuci piring, dan menyiapkan keperluan Nenek sebelum berangkat bekerja atau mengurus urusanku sendiri. Gayung biru itu tetap berada di antara kami.

*****

Pada suatu musim kemarau, sumur kami mulai mengering. Air yang biasanya mudah diambil menjadi semakin jauh dari permukaan. Kami harus menurunkan timba lebih dalam dan menariknya dengan tenaga yang lebih besar. Air yang terkumpul pun harus digunakan dengan hati-hati. Nenek mengurangi jumlah air untuk mandi. Aku juga belajar menghemat air, tidak lagi membiarkan gayung terisi terlalu penuh atau membuang air yang masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman. Setiap tetes terasa berarti. Ketika musim hujan kembali datang, kami merasa lega. Sumur perlahan terisi, tanaman kembali tumbuh, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak ada perayaan khusus. Tidak ada yang berubah secara besar-besaran. Kami hanya kembali melakukan pekerjaan sehari-hari dengan sedikit lebih ringan.

Aku pernah berpikir bahwa suatu saat nanti aku akan membawa Nenek tinggal di tempat yang lebih baik. Aku ingin membelikannya rumah dengan lantai yang tidak kasar, kamar mandi yang layak, dan persediaan air yang tidak perlu diambil dari sumur. Aku ingin ia tidak perlu lagi menghitung uang sebelum membeli sabun atau berpikir panjang hanya untuk mengganti sebuah gayung. Namun, keinginan itu selalu terasa lebih besar daripada kemampuanku. Aku belum memiliki cukup uang. Pekerjaan yang kudapat tidak selalu tetap, sementara kebutuhan kami terus berjalan. Ada masa ketika aku berhasil menyisihkan sedikit uang, tetapi kemudian uang itu terpakai untuk berobat atau membeli kebutuhan rumah. Setiap kali tabungan mulai bertambah, selalu ada sesuatu yang harus didahulukan. Aku mulai memahami bahwa kemiskinan bukan hanya soal tidak memiliki sesuatu. Kemiskinan juga berarti harus terus menunda banyak hal, bahkan ketika seseorang sudah bekerja keras. Aku tidak menyalahkan Nenek. Aku juga tidak ingin menyalahkan keadaan dengan cara yang membuatku berhenti berusaha. Namun, ada saat-saat ketika aku merasa lelah melihat hidup kami bergerak begitu lambat. Nenek biasanya tidak tahu apa yang sedang kupikirkan. Ia hanya menyuruhku makan ketika melihatku duduk terlalu lama. “Jangan terlalu banyak melamun,” katanya. “Kalau ada yang bisa dikerjakan, kerjakan. Kalau belum bisa, sabar dulu.” Aku sering menganggap nasihat itu terlalu sederhana. Namun, semakin dewasa aku, semakin sering aku mengingatnya. Waktu terus berjalan.

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru