Bahkan Untuk Bisa Melihatpun Harus ke Singapura: Kisah Piluh Salah Satu Warga Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka

“Pernah mau operasi di Lela. Dua hari dua malam saya tunggu di sana. Tapi dokter dari Jakarta bilang, bola mata saya harus diganti. Harus operasi di Singapura.” kata Kripianus dengan suara lirih.
Kripianus Yonas Peda bersama Anak dan Istri, Warga Dusun Wukakgahar, RT/RW 011/04, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Kisah piluh menyayat hati datang dari Dusun Wukakgahar, RT/RW 011/04, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka. Kisah tersebut dialami oleh salah seorang warga bernama Kripianus Yonas Peda, Pria berusia 69 tahun yang kini secara total tidak dapat melihat wajah istri, Petronela (60), anak, Ana Paskalia Maring (22) dan sesamanya akibat mengidap penyakit katarak mata. Penyakit yang memaksanya menjalankan hidup dalam keadaan gelap. Selamanya. Pada dinding rumah yang terbuat dari pelupuh berukuran 4×5 meter tanpa lantai ini, kehidupan dijalani tanpa sedikitpun cahaya.

Di tempat itulah tiga orang dalam satu keluarga menjalani hari-hari mereka. Untuk berjalan, Kripianus harus meraba dinding atau dituntun. Sekadar menuju dapur pun ia tidak bisa melakukannya seorang diri. Pernah ada kesempatan untuk mengakhiri kehidpan tanpa cahaya tersebut . Kripianus mengaku pernah datang ke fasilitas kesehatan di Lela untuk menjalani pemeriksaan dan berharap mendapat penanganan berupa operasi. Ia bahkan menunggu selama dua hari dua malam. Namun harapan itu kembali kandas.

“Pernah mau operasi di Lela. Dua hari dua malam saya tunggu di sana. Tapi dokter dari Jakarta bilang, bola mata saya harus diganti. Harus operasi di Singapura.” ,” kata Kripianus dengan suara lirih.

Baca juga: Ukir Sejarah Baru, Femy Bapa Resmi Dilantik Jadi Sekda Perempuan Pertama di Sikka

 

Bagi keluarga Kripianus, Singapura bukan sekadar nama sebuah negara. Itu adalah jarak yang hampir tak mungkin mereka tempuh. Kemampuan ekonomi keluarga membuat rencana operasi tersebut berhenti sebagai harapan. Kripianus akhirnya pulang ke Nenbura. Ia kembali ke rumah yang sama, dengan penglihatan yang sama-sama gelap. Di rumah itu pula, anaknya, Ana, menyimpan harapan yang lain. Ana yang kini berusia 22 tahun telah menamatkan pendidikan SMA pada 2022. Ijazahnya masih disimpan dalam plastik dan diletakkan pada dinding pelupuh rumah mereka. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun keinginan itu harus dikalahkan oleh keadaan. Sebuah pengakuan yang menggugah banyak hati.

“Kalau saya lihat teman-teman saya sudah pakai toga, air mata saya jatuh. Saya mau lanjut kuliah, tapi lihat kondisi orangtua saya begini. Bapak buta, rumah begini. Mau kuliah pakai apa?” ujar Ana.

Baca juga: IFTK Ledalero Gandeng Undana Percepat Akreditasi Unggul dan Perkuat Program Berdampak di Flores

 

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru