Gayung Kamar Mandi | Cerpen Felix Sugar |

“Memangnya gayung itu sudah tidak bisa dipakai?”  “Sudah tua Nek.” “Barang tua bukan berarti tidak berguna.” Aku terdiam. Nenek kembali bekerja, sementara aku memandang gayung yang terletak di dekat sumur.
Ilustrasi

*****

Pada suatu malam, Nenek mengeluh bahwa tubuhnya terasa tidak enak. Ia tidak banyak makan dan lebih cepat berbaring daripada biasanya. Aku menyuruhnya beristirahat. Kupikir keesokan paginya ia akan kembali bangun, menanyakan keadaan kebun, lalu memintaku mengambil air seperti hari-hari sebelumnya. Namun, pagi itu berbeda. Aku bangun ketika matahari belum terbit. Udara masih dingin, dan suara ayam terdengar dari rumah tetangga. Aku pergi ke dapur untuk menyiapkan air panas, lalu memanggil Nenek dari balik pintu kamarnya. Tidak ada jawaban. Kupanggil lagi, kali ini lebih keras. Nenek tetap diam. Aku mendekat dan menyentuh bahunya. Tubuhnya terbaring tanpa gerakan. Wajahnya tampak tenang, tetapi ada sesuatu pada keheningan itu yang membuat dadaku terasa sesak.

“Nek?”

Aku mengguncang bahunya pelan. Tidak ada jawaban. Aku tidak ingat berapa lama aku berdiri di sana. Aku hanya ingat bahwa tanganku mulai gemetar ketika menyadari Nenek tidak akan bangun lagi. Orang-orang berdatangan setelah kabar kematiannya tersebar. Tetangga membantu menyiapkan keperluan pemakaman. Aku duduk di sudut rumah, berusaha memahami bahwa orang yang selama ini menjadi tempatku pulang kini telah pergi. Aku melihat orang-orang bergerak ke sana kemari. Mereka berbicara, membawa perlengkapan, dan menanyakan apa yang masih dibutuhkan. Namun, pikiranku justru tertuju pada hal-hal kecil yang selama ini terasa biasa.

Siapa yang akan bangun paling pagi? Siapa yang akan memanggilku untuk makan? Siapa yang akan mengingatkanku agar tidak membuang air? Dan siapa lagi yang akan marah jika gayung itu jatuh?

Aku tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Ketika tiba waktunya memandikan jenazah Nenek, seseorang meminta air disiapkan. Aku berjalan ke belakang rumah, menuju kamar mandi kecil yang telah bertahun-tahun menjadi bagian dari hidup kami. Gayung biru itu masih berada di tempatnya. Aku mengambilnya. Tanganku mendadak terasa berat, meskipun gayung itu kosong. Aku teringat pagi ketika aku menjatuhkannya saat masih kecil. Aku teringat suara Nenek yang memarahiku, tangannya yang membersihkan gayung itu setiap malam, dan ceritanya tentang bagaimana benda itu dibeli bersama Kakek ketika mereka baru menikah. Aku juga teringat bagaimana gayung itu digunakan untuk menyiram sayuran, mengambil air dari sumur, dan memenuhi begitu banyak kebutuhan rumah kami. Selama bertahun-tahun, benda itu membantu Nenek merawat kehidupan.

Pagi itu, untuk pertama kalinya, aku menggunakannya untuk mengambil air bagi kepergian Nenek. Aku mengisi gayung perlahan. Air dari bak mengalir ke dalamnya, menimbulkan suara kecil yang sangat kukenal. Suara yang selama ini tidak pernah kuperhatikan, suara yang terdengar hampir setiap hari ketika aku mandi atau membantu Nenek bekerja. Kini suara itu terasa berbeda. Aku membawa air ke tempat jenazah Nenek dimandikan. Aku tidak banyak bicara. Aku hanya membantu sebisaku, sementara orang-orang yang lebih memahami tata cara memandikan jenazah memimpin proses tersebut. Air dituangkan dengan hati-hati ke tubuh Nenek. Aku berdiri tidak jauh dari sana, memegang gayung itu ketika diperlukan. Sesekali aku menunduk, berusaha menahan air mata yang terus muncul tanpa bisa kucegah. Aku tidak pernah membayangkan bahwa benda yang dahulu kujatuhkan karena tanganku terlalu kecil akan berada di tanganku pada hari terakhir Nenek.

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru