Gayung Kamar Mandi | Cerpen Felix Sugar |

“Memangnya gayung itu sudah tidak bisa dipakai?”  “Sudah tua Nek.” “Barang tua bukan berarti tidak berguna.” Aku terdiam. Nenek kembali bekerja, sementara aku memandang gayung yang terletak di dekat sumur.
Ilustrasi

Pagi itu aku kembali mandi dengan gayung yang sama. Nenek kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suaranya memanggilku untuk sarapan. Hanya ada nasi dengan garam dan sedikit sayur bening yang dimasak sejak subuh. Begitulah kehidupan kami. Tidak banyak yang bisa dipilih, tidak banyak yang bisa diminta. Apa yang tersedia, itulah yang harus diterima.  Aku tinggal bersama Nenek di sebuah gubuk sederhana di kampung yang cukup jauh dari kota. Rumah itu berdinding papan yang sebagian sudah lapuk, berlantai semen kasar, dan beratap seng yang akan berbunyi keras setiap kali hujan turun. Di bagian belakang terdapat sebuah sumur dan kamar mandi kecil berdinding papan. Tidak ada pintu yang benar-benar rapat. Kami hanya memasang selembar papan yang bisa digeser untuk menutup jalan masuk.

Di kamar mandi itulah gayung tersebut selalu berada. Gayung itu digunakan untuk hampir semua kebutuhan air di rumah kami. Untuk menimba air dari sumur, mandi, membersihkan diri setelah buang air, mencuci kaki sebelum tidur, bahkan menyiram sayuran di kebun kecil belakang rumah. Jika Ibu-ibu lain di kampung memiliki ember dan gayung yang berbeda untuk keperluan masing-masing, kami tidak punya kemewahan seperti itu. Satu gayung harus cukup untuk semuanya. Kadang-kadang, setelah menyiram sayuran, aku harus mencucinya terlebih dahulu sebelum menggunakannya untuk mandi. Pada kesempatan lain, ketika Nenek sedang memasak dan membutuhkan air tambahan, aku harus membawa gayung itu ke dapur. Tidak pernah ada yang bertanya apakah aku bosan menggunakan benda yang sama setiap hari. Aku pun tidak pernah berpikir untuk meminta yang baru. Sejak kecil aku sudah belajar bahwa keinginan harus disesuaikan dengan keadaan, meskipun saat itu aku belum memahami apa arti keadaan yang sebenarnya.

Aku tumbuh dengan keadaan yang tidak pernah benar-benar kupilih. Ayah dan Ibu berpisah ketika aku masih kecil. Aku tidak ingat dengan jelas bagaimana semuanya bermula. Yang kuingat hanya suara pertengkaran pada malam hari, pintu yang ditutup keras, dan wajah Ibu yang semakin jarang terlihat di rumah. Sampai suatu hari, Ibu pergi merantau ke Jakarta. Awalnya, aku diberi tahu bahwa Ibu pergi untuk bekerja. Aku percaya saja. Aku membayangkan suatu saat ia akan pulang membawa pakaian baru, membelikanku sepatu sekolah, lalu tinggal kembali bersama Ayah dan aku. Namun, hari demi hari berlalu tanpa kepulangan yang kunanti.

Beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar bahwa Ibu telah menikah dengan seorang pengusaha kaya di Jakarta. Aku tidak tahu bagaimana kehidupan Ibu setelah itu. Aku tidak tahu apakah rumahnya besar, apakah ia memiliki kamar mandi yang bersih, atau apakah ia masih mengingat anak yang pernah ditinggalkannya di kampung. Aku hanya bisa membayangkannya dari cerita orang-orang yang sesekali pulang dari kota. Aku juga tidak tahu harus merasa apa setiap kali mendengar kabar tentangnya. Aku tidak cukup membencinya untuk berharap ia hidup susah, tetapi juga tidak cukup kuat untuk berpura-pura bahwa kepergiannya tidak pernah menyakitiku.

Ayah tinggal lebih lama bersamaku, tetapi kehadirannya pun perlahan menghilang. Awalnya, Ayah hanya sesekali pergi tanpa memberi tahu ke mana tujuannya. Kemudian, ia mulai sering menghabiskan waktu dengan teman-teman pemabuknya. Aku tidak memahami apa yang dilakukannya. Aku hanya tahu bahwa ia semakin sering kehilangan uang, semakin mudah marah, dan semakin jarang memikirkan kebutuhan rumah. Belakangan, aku baru mengetahui bahwa Ayah terjerat judi daring. Uang yang seharusnya digunakan untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari habis sedikit demi sedikit. Beberapa kali, Nenek harus menutup kekurangan dengan menjual hasil kebunnya lebih cepat, bahkan ketika harga sayuran sedang murah. Ayah berjanji akan berhenti, tetapi janji itu tidak bertahan lama. Sampai akhirnya, Ayah terlibat perkara hukum dan harus menjalani hukuman penjara selama dua puluh sembilan tahun Aku masih terlalu muda untuk memahami panjangnya hukuman itu. Yang kupahami hanya bahwa Ayah tidak akan pulang dalam waktu dekat. Aku juga tidak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi. Sejak itu, rumah kami menjadi semakin sepi. Nenek tidak banyak membicarakan Ayah. Ia tidak pernah memintaku membencinya, tetapi juga tidak berusaha membenarkan perbuatannya. “Orang bisa salah memilih jalan,” katanya suatu malam ketika aku bertanya mengapa Ayah tidak tinggal bersama kami lagi. “Tapi setiap jalan ada akibatnya. Kita yang ditinggalkan juga harus tetap menjalani hidup.” Setelah itu, Nenek menyuruhku tidur.

Sejak Ayah masuk penjara, hanya Nenek yang benar-benar tinggal bersamaku. Dialah yang menyiapkan makan, mengurus sekolahku, membangunkanku setiap pagi, dan memarahiku ketika aku pulang terlalu sore. Dialah yang mengetahui kapan aku sakit, kapan aku lapar, dan kapan aku sedang menyimpan kesedihan meskipun tidak mengatakannya. Namun, Nenek sendiri bukan orang yang hidup berkecukupan. Usianya sudah lanjut, punggungnya mulai membungkuk, dan lututnya sering sakit jika terlalu lama berdiri. Meski begitu, setiap pagi ia tetap bangun sebelum matahari terbit untuk mengurus kebun kecil di belakang rumah. Di kebun itulah kami menggantungkan sebagian kehidupan. Nenek menanam kangkung, bayam, cabai, dan beberapa jenis sayuran lain yang bisa tumbuh di tanah sempit milik kami. Tidak banyak hasilnya, tetapi cukup untuk dijual jika tanaman tumbuh dengan baik. Aku sering membantunya mencabut rumput, mengikat sayuran, atau menyiram tanaman menggunakan gayung biru itu. Aku harus berjalan bolak-balik dari sumur ke kebun. Satu gayung demi satu gayung, air kupindahkan ke tanah yang mulai mengering. Jika matahari sedang terik, air yang kusiramkan terasa seperti menghilang begitu saja sebelum sempat meresap. “Jangan malas menyiram,” kata Nenek. “Kalau tanaman mati, kita mau jual apa?” Aku menurut saja.

Kadang-kadang aku merasa pekerjaan itu tidak ada habisnya. Namun, setiap kali melihat Nenek membungkuk di antara tanaman, aku mengerti bahwa tidak ada banyak pilihan bagi kami. Sayuran itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sanalah uang untuk membeli beras, minyak goreng, garam, sabun, dan kebutuhan sekolahku berasal. Masalahnya, sayuran tidak selalu menghasilkan uang tepat ketika kami membutuhkannya. Pasar terdekat cukup jauh dari kampung kami. Untuk menjual hasil kebun atau membeli kebutuhan rumah, kami harus mengeluarkan ongkos perjalanan. Jika membawa sayuran terlalu sedikit, hasil penjualannya kadang tidak sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan. Karena itu, Nenek sering menunggu sampai hasil panen cukup banyak sebelum pergi ke kota. Namun, menunggu bukan berarti kebutuhan ikut berhenti. Pernah suatu ketika persediaan beras kami hampir habis, sedangkan sayuran yang siap dipanen belum cukup banyak untuk dijual. Nenek akhirnya membawa beberapa ikat kangkung dan bayam ke rumah seorang pedagang yang sesekali membeli hasil kebun warga. Harganya lebih rendah daripada harga di pasar, tetapi Nenek tetap menjualnya. Ketika pulang, ia membawa beras, sedikit minyak goreng, dan sabun cuci. Aku melihat barang-barang itu diletakkan di atas meja.

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru