Pak Tentara

"Cukup sampai di saya saja hidup susah, Sony!" pungkas ayahnya, tegas.
Ilustrasi

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM-Sahabat PeNa (PerspektifNusantara). Puncak kebahagian tertinggi orangtua adalah melihat anaknya berhasil. Namun apalah daya jika keberhasilan anaknya hanya ‘seumuran jagung’?

Cerpen berikut merupakan hasil imajinasi kreatif dari penulis. Selamat membaca!

 

Baca juga: Dilarang Sleep Call

Suara tembakan membelah kesunyian hutan tempat itu. Suara itu menggema di antara pepohonan, seolah ranting-rantingnya ikutan bergetar. Sony tersentak. Jemarinya mengepal erat pada gagang senjata. Di balik sebuah pondok kayu sederhana, ia meringkuk. Napasnya memburu, memacu detak jantung yang berdentum lebih keras dari bunyi peluru. Di saat maut mengintai di balik hutan rimba itu, pikiran Sony justru melesat jauh. Ia merindukan sebuah sore yang tenang di tanah kelahirannya.
Jauh sebelum mengenakan seragam itu, di teras belakang rumah sore itu, Sony dipanggil ayahnya. Di antara kepulan asap rokok Djtoe, ayahnya menyeret kursi bambu lalu menyuruh Sony duduk di sisinya. Mata ayahnya menatap jingga senja di balik tumpukan karung-karung sampah yang mereka kumpulkan seminggu terakhir. Aromanya menyengat menembusi rongga hidung. Aroma itu sudah menyatu, sebab dari situlah perut keluarga mereka bisa makan.
“Kita tidak bisa seperti ini terus. Ayah usahakan kalian semua berpendidikan,” ungkap ayahnya, serius. Suaranya parau, seberat kemiskinan yang dipikulnya setiap hari.
“Kenapa ayah bilang begitu?” tanya Sony. Ia bingung ketika obrolan tentang pendidikan meluncur tiba-tiba dari mulut ayahnya.
“Tidak. Hanya supaya hidup kalian nanti tak susah seperti ayah,” jawab ayahnya singkat.
Mereka lima bersaudara. Adik di bawah Sony baru lulus SMP dua tahun lalu, sedangkan tiga lainnya masih duduk di sekolah dasar. Kata orang, keberhasilan dalam sebuah keluarga dimulai dari anak pertama. Jika anak sulung berhasil disekolahkan, maka saudara-saudara selanjutnya akan mengikuti jejaknya. Ayah Sony sangat percaya pada prinsip itu. Ia mengenang empat anak kakak iparnya telah berhasil disekolahkan meski ia hanya seorang kuli bangunan. Pendapatannya tak seberapa. Itu karena anak pertamanya menjadi staf ahli di istana negara. Anak kedua dan ketiga pun bisa disekolahkan menjadi guru, sedangkan anak nomor empat menjadi seorang perawat. Melihat itu, ayah Sony tergerak untuk berusaha menyekolahkan Sony. Ia menginginkan agar Sony kelak menjadi ‘orang’ dan mengenakan seragam loreng selepas SMA.
“Ayah, menurutmu apakah aku ini bisa?” tanya Sony ragu.
“Mengapa tidak? Kau harus ikut tes tentara. Ini kesempatan besar,” desak ayahnya. Matanya berbinar penuh harap.
“Tapi Yah, tes itu butuh biaya besar. Kita… kita hanya pemulung,” Sony mencoba realistis.
Ia tahu betul bagaimana orang tuanya harus berebut sisa sampah dengan permainan para petugas kebersihan demi beberapa keping rupiah. Sony ingat betul, suatu waktu ayahnya pernah mengeluh karena tak membawa apa-apa dari tempat pemulungan. Palingan, ayahnya hanya membawa beberapa botol suprite bekas, itu pun kalau ditimbang tak sampai sekilo. Kata ayahnya, barang-barang sisa yang lebih berat sudah dipilah lebih dahulu oleh para petugas kebersihan dari kota. Sisa-sisa yang tidak ada harganya baru dibawa ke pembuangan akhir. Ayah Sony sempat putus asa, padahal para petugas itu mendapat gaji bulanan dari negara, sedangkan pemulung? Hanya berharap sisa dari mereka? Bukankah itu bagian dari korupsi? Mereka masih tega mengambil yang bukan menjadi hak mereka. Padahal hanya sampah.
“Coba saja dulu. Soal biaya itu urusan ayah,” jawab ayahnya meyakinkan, meski ia sadar dirinya hanyalah pemulung tanpa penghasilan menjanjikan. Tapi, di benak ayahnya, sebagai anak sulung Sony harus sukses. Bukan demi pamor sosial agar disegani, melainkan demi merubah nasib keluarga di kemudian hari. Hidup tanpa pendidikan, bagi ayahnya, adalah malapetaka. Itu berarti ia tak mampu berpikir kritis, tak punya kejelasan masa depan, dan tak dihormati di mata masyarakat. Itulah alasan ayahnya berjuang keras menyekolahkan anaknya di tengah keterbatasan ekonomi.
“Tidak. Ayah tak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu,” bantah Sony lagi.
“Cukup sampai di saya saja hidup susah, Sony!” pungkas ayahnya, tegas.
Seketika, air mata ayahnya tumpah menggenang di pipi keriputnya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya. Dulu ia pernah bercita-cita ingin menjadi tentara, tetapi ayahnya tak mampu membiayai. Selain itu, ibunya kala itu struk berat dan tak ingin menjauh darinya. Ibunya takut kalau ia menjadi tentara dan mati di medan perang. Itulah sebabnya ia sekarang memilih hidup menjadi pemulung.
Sony tak mampu berkata-kata lagi. Dalam diam, ia mulai menyadari betapa berartinya pendidikan untuk mengubah nasib. Tapi, pendidikan itu masih terasa abu-abu di benaknya ketika ekonomi keluarga tak berpihak.
“Ayah, aku mencari kerja saja untuk membantu ayah dan ibu,” balas Sony, berharap agar ayah tidak memaksa keadaan.
“Apa pun yang terjadi, kau harus menjadi tentara, titik!” balas ayahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia seolah berusaha menahan air matanya. Ia tak menginginkan Sony dan keempat adiknya merasakan kesusahan di kemudian hari. “Soal uang, itu urusan ayah dan ibumu,” tambahnya.
“Baiklah. Kalau ayah menginginkan demikian.”
Dilema bercampur aduk di hati Sony. Di sisi lain, Sony tak ingin menjadi tentara bukan karena tak mampu secara intelektual, melainkan karena tekanan ekonomi keluarga. Ia sering mendengar cerita dari mulut ke mulut bahwa masuk tentara membutuhkan modal besar. Tanpa uang, mustahil bisa lolos. Namun, ayahnya mati-matian agar Sony menjalani impian menjadi tentara.
Seminggu kemudian, Sony berangkat ke pusat kota mengikuti testing. Ayahnya diam-diam menjual sebidang sawah warisan leluhur demi membiayai Sony. Meskipun terasa berat, ayah Sony tak ambil pusing. Dalam benaknya, Sony harus sukses. Soal makan minum, bisa dicari melalui penghasilan jualan botol bekas yang ia pungut setiap hari.
Kini, setahun telah berlalu. Sony berdiri di tengah hutan di suatu tempat yang mencekam. Ia terpilih bergabung dalam tim operasi militer untuk menjaga stabilitas wilayah itu. Sony terkejut mendengar namanya disebutkan dalam tim khusus itu. Sebagai seorang tentara, ia tak menolak. Ia tunduk pada setiap perintah atasan. Ia tahu, menjadi tentara berarti selalu siap entah mati sekalipun. Tapi, ia ragu dengan kemampuannya. Ia merasa pengalamannya masih terlalu belia untuk menangani operasi ke medan konflik. Meskipun begitu, ia menerima tugas itu dengan lapang.
“Ayah, doakan aku. Jangan lupa bakar lilin di kubur leluhur, meminta perlindungan mereka,” kata Sony saat berpamitan melalui telepon sehari sebelum keberangkatan.
“Sony, anakku. Apa kamu sedang pergi berperang?” tanya ayahnya, penuh khawatir. Suara parau itu kini terdengar gemetar.
“Bukan,” jawab Sony berbohong. Ia berusaha menyembunyikan soal perutusannya ke daerah konflik agar ayahnya tidak kepikiran.
“Apakah Sony baik-baik saja?”
“Selalu baik, yah,” jawab Sony. “Salam untuk ibu dan adik-adik.” Ia lalu segera menutup telepon.
Tahun persis kelulusan Sony, kebijakan negara begitu getol mengirimkan pasukan ke tempat itu. Sony bingung. Setahunya, tempat tersebut adalah bagian negara yang aman. Tapi mengapa panglima mengklaim wilayah itu sebagai wilayah konflik? Di tempat itu, Sony justru langsung berpapasan dengan orang-orang asli yang ramah, sopan, dan adem. Sony merasakan suasana itu seperti sedang berada di kampung halamannya. Ia akrab dengan anak-anak kecil layaknya adik-adik kandungnya.
Namun, kedamaian itu pecah seketika. Gema suara tembakan terdengar dari arah hutan. Semua warga panik. Pontang-panting mau kabur.
“Ayo! Kabur…. Mereka datang lagi! Bawa anak-anak dari sini!” teriak kepala suku dengan wajah pucat.
Ibu-ibu menggendong anak-anaknya lari menuju sungai. Bapak-bapak mengambil panah dan berlari ke arah suara tembakan. Sony bingung.
“Apa yang sedang terjadi di sana?” tanya Sony ke salah seorang ibu yang berlari melewatinya.
“Jangan pura-pura tidak tahu. Itu ko pu orang-orang!” jawab ibu itu dengan amarah.
“Maksudnya?”
“Ko macam tidak tahu saja. Ko ini mata-mata mereka toh?”
Sony tertegun. Suara tembakan semakin mendekat. Orang-orang di kampung sudah kabur. Sony mengangkat senjatanya, bersembunyi di belakang sebuah pondok. Ia mengamati dengan mata kepala sendiri; suara tembakan itu datang dari teman-teman pasukannya. Mereka memeriksa rumah warga dengan todongan senjata. Sony hampir saja ditembak oleh rekannya karena tidak berpakaian seragam tentara. Ia memang sering mengenakan pakaian bebas saat bertamu agar merasa dekat dengan warga, layaknya di kampung sendiri.
“Kau sedang apa di sini!” bentak kepala pasukan yang tiba-tiba muncul di depannya.
“Saya biasa datang bertamu sekadar menikmati kopi dan ubi bakar. Apa yang sedang terjadi?” tanya Sony. Suaranya bergetar menahan amarah dan kebingungan.
“Kau gila! Kau sudah melanggar misi negara. Mereka itu musuh kita. Kita datang ke tempat ini untuk mengusir mereka.”
“Mengapa mereka diusir? Bukankah mereka orang asli dan tanah ini milik mereka?”
“Jangan banyak tanya. Kita ikuti saja perintah dari sana!” bantah sang pemimpin komando dengan mata memerah.
“Tapi mereka orang baik!”
“Baik apanya? Mereka melarang lahannya untuk proyek negara. Untuk kepentingan warga kita, termasuk mereka sendiri.”
“Tapi….”
“Tidak ada! Pokoknya mereka musuh kita. Mereka menghambat kemajuan negara ini,” tegas pemimpin komando lagi.
Perdebatan itu memuncak di tengah kepulan asap dan tangis warga yang menjauh. Sony teringat ayahnya yang memulung sampah demi menyekolahkannya agar ia bisa berpikir kritis. Namun di sini, berpikir kritis dianggap pengkhianatan.
“Kenapa kita memusuhi orang sederhana dan baik seperti mereka?” tanya Sony, penasaran.
“Kau tidak tahu!”
“Kalau memang negara sayang mereka, mengapa hidup mereka dibiarkan susah?”
Jawaban itu membuat sang pemimpin komando murka.
DOOR!!!!
“Cuka minyak!

 

Penulis: Krisogonus Kusman biasa disapa Gonsi, tapi teman-teman sering menyapa Gogon. Nama Gogon adalah nama pena dari penulis. Sejak SMA, Gogon sangat menyukai sastra. Ia lahir di Kolang, Manggarai Barat. Sebuah kampung yang terkenal dengan (produksi gula merah dari enau). Hari-hari hidupnya dihabiskan dengan membaca karya sastra di sejumlah media maupun buku. Beberapa karyanya telah diterbitkan di sejumlah media. Baru-baru, Gogon telah menerbitkan buku Antologi Cerpen dan Puisi berjudul “Sepatu Kesayangan”. Sekarang, Gogon sedang melanjutkan studi Filsafat pada Intitut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero. Selain itu, Gogon juga adalah seorang calon imam dalam Serikat Sabda Allah (SVD), yang sedang menjalani masa formasi di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

 

Baca juga: Janji dan Harapan || Antologi Puisi Martin Meli

Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru