“Uangnya cukup, Nek?” tanyaku.
“Cukup untuk sekarang,” jawabnya.
Aku tahu jawaban itu tidak sepenuhnya berarti kami baik-baik saja. Aku sudah cukup besar untuk memahami bahwa kata cukup di rumah kami sering kali hanya berarti masih ada sesuatu yang bisa dimakan sampai besok. Di kampung kami, uang terasa berjalan lambat. Orang-orang bekerja dari pagi sampai sore, tetapi hasilnya tidak selalu langsung menjadi uang tunai. Ada pedagang yang baru membayar setelah dagangannya laku. Ada tetangga yang meminjam uang untuk kebutuhan mendesak dan baru bisa mengembalikannya setelah panen. Ada pula hasil kebun yang harus menunggu pembeli karena tidak mungkin dibawa ke kota setiap hari. Sementara itu, kebutuhan rumah tidak mengenal kata menunggu. Ketika sabun habis, kami harus membeli sabun. Ketika beras habis, kami harus mencari beras. Ketika sandal putus, kaki tetap harus digunakan untuk berjalan. Dan ketika sebuah barang rusak, kami harus memikirkan apakah uang untuk menggantinya benar-benar tersedia. Hal itulah yang membuatku akhirnya memahami kemarahan Nenek terhadap gayung.
*****
Suatu sore, aku pernah meminta agar kami membeli gayung baru. Gayung lama itu sudah terlihat semakin buruk. Pada bagian bawahnya terdapat goresan panjang, dan gagangnya terasa rapuh jika diangkat dengan air penuh. “Kalau kita ke kota nanti, beli gayung baru, ya, Nek,” kataku. Nenek yang sedang memilah sayuran hanya menoleh sebentar.
“Memangnya gayung itu sudah tidak bisa dipakai?” “Sudah tua Nek.” “Barang tua bukan berarti tidak berguna.” Aku terdiam. Nenek kembali bekerja, sementara aku memandang gayung yang terletak di dekat sumur.
Beberapa hari kemudian, ketika kami benar-benar pergi ke kota untuk membeli kebutuhan rumah, aku kembali mengingat permintaanku. Kami melewati toko yang menjual peralatan rumah tangga. Di depan toko itu, kulihat berbagai macam gayung digantung berderet. Ada yang berwarna merah, hijau, kuning, dan biru. Bentuknya bagus, gagangnya masih kokoh, dan harganya tertulis pada selembar kertas kecil. Aku memperlambat langkah. Nenek menyadarinya. “Masih ingin beli gayung?” tanyanya. Aku mengangguk. Ia melihat barang-barang yang dipajang di depan toko, lalu merogoh kantong bajunya untuk memeriksa uang yang tersisa. Setelah beberapa saat, ia menggeleng pelan. “Lain kali, ya. Kita masih perlu membeli beras.” Aku tidak menjawab. Kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan pulang, aku merasa kecewa, meskipun aku berusaha menyembunyikannya. Aku tahu Nenek tidak sedang berbohong. Aku juga tahu beras lebih penting daripada gayung baru. Namun, saat itu aku belum benar-benar memahami betapa beratnya menjadi orang yang harus memilih di antara dua kebutuhan yang sama-sama masuk akal. Malamnya, aku melihat Nenek mencuci gayung itu dengan sabun. Ia menggosok bagian dalamnya, membersihkan kotoran yang menempel, lalu meletakkannya terbalik di dekat bak air. Aku memperhatikannya dari pintu kamar mandi.