PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, BOGOR– Sekolah Menengah Pertama (SMP) Marsudirini Bogor di bawah naungan Yayasan Marsudirni, telah mensukseskan kegiatan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Siswa Intra Sekolah (OSIS) untuk periode tahun 2026/2027. Penyelenggaraan kegiatan ini didukung dan dipelopori oleh panitia dan pihak sekolah. Peran para pembina dalam mensukseskan kegiatan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS patut diacungkan jempol. Eksistensi pembina dalam mempelopori kegiatan ini dapat dikatakan sebagai motor penggerak yang penuh totalitas. Seperti tak mau ketinggalan dalam peran dan partisipasi, demikian halnya siswa dan siswi yang tergabung dalam keanggotaan OSIS lama dari tiap-tiap divisi, pun memberikan semangat dan kontribusinya masing-masing sebagai bentuk kesatuan yang utuh dan harmonis.
Senin, 19 Oktober 2026 kegiatan pemilihan OSIS diselenggarakan di gedung SMP Marsudirni Bogor, dan diikuti oleh seluruh peserta mulai dari siswa dan siswi serta bapak ibu guru, secara demokratis. Penyelenggaraan kegiatan tersebut berjalan kondusif dan humanis. Adapun SMP Marsudirini Bogor di bawah naungan Yayasan Marsudirini yang dikelola oleh suster-suster OSF mulai beroperasi sejak tanggal 14 Juli 2003 (berdasarkan SK Pendirian tanggal 1 Juli 2003). Ini berarti sudah ke-23 kali berturut-turut kegiatan ini diselenggarakan. Menariknya adalah regulasi dalam proses seleksi pemilihan Ketua dan Wakil, maupun proses pemilihan suara dibuat lebih menarik dari tahun-tahun sebelumnya. Penyelenggara sekaligus Pembina OSIS, Ristama M. Haloho, S.Pd, M.M, menegaskan bahwa, kegiatan ini dilaksanakan bukan sekadar mengikuti kewajiban dalam sebuah sistem yang berlaku. Tapi lebih dari itu, penyelenggaraan kegiatan ini bertujuan untuk melatih dan mengasah kemampuan berorganisasi dan bersosialisasi. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk melatih siswa dan siswi dalam berdemokrasi. Seluruh siswa dan siswi harus tahu artinya, bahwa demokrasi sejatinya adalah sebuah sistem pemerintahan yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Oleh sebab itu, dalam konteks penyelenggaraan ini, pemegang kekuasaan tertinggi adalah siswa-siswi yang tidak termasuk dalam struktur pengorganisasian. Hal ini kemudian selaras dengan arti demokrasi itu sendiri (demikian Ristama Haloho).
Proses pemaparan visi dan misi oleh para kandidat tidak dilakukan melalui central (pusat informasi) melainkan diberikan kebebasan untuk menampilkan diri dengan cara berpikir kritis dan otentik kepada audiens serta pasangan calon lainnya. Adapun pasangan calon atas nama Tobias Egan Bimantoro (Egan), dan Aloysius Andres Wicaksono (Andres) yang kemudian menempati posisi pertama pemilihan suara terbanyak sekaligus penerima tongkat estafet kepemimpinan; dalam sebuah sesi tanya jawab bersama audiens menjelaskan bahwa, jika menjadi ketua dan wakil ketua, mereka akan menjadi promotor utama dalam mengkonsolidasi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) untuk hal-hal yang membangun dan menunjang kemajuan SMP Marsudirini Bogor. Menjawabi pertanyaan skeptis dari beberapa siswa dan siswi terkait eksistensi OSIS sebagai wadah aspirasi dan komunikasi, Egan dan Andres secara gamblang menjelaskan bahwa, OSIS adalah tempat dimana kita menemukan jati diri, pertukaran ide, dan gagasan, serta wadah untuk bersosialisasi dengan sesama. Tidak ketinggalan, siswi atas nama Gabriella Anindito Nugroho (IX) mengajukan pertanyaan kritisnya mengenai titik fokus OSIS dalam konteks akademik, dan non akademik; mana yang dahulu diutamakan di masa kepemimpinan Anda dalam membangun peningkatan Pendidikan SMP Marsudirini Bogor? Dengan senyum yang ramah, siswa yang akrab disapa Egan itu, menjawab pertanyaan tersebut dengan bijak. Keduanya mesti berjalan bersama. Aspek akademik adalah esensi untuk menjembatani aspek lainnya (non akademik). Kedua aspek tersebut mesti menjadi penopang dalam konteks pendidikan, dan tidak bisa dilepaspisahkan (demikian Egan). Lebih lanjut, Egan menjelaskan bahwa aspek akademik sebenarnya adalah akar rumput dalam penemuan bakat-bakat pada non akademik. Dari aspek akademik itulah kita menemukan kompetensi dalam diri yang kemudian dapat kita dikembangkan.
Baca juga: Brigita Dona Lebao, Mahasiswi Pertama Pembawa Orasi Ilmiah dalam Sejarah IFTK Ledalero
Rabu 28 Oktober 2026 diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda, dan tepat di momen itu tongkat estafet kepemimpinan Amorra Maliycha Aisha Toekan berpindah tangan kepada Tobias Egan Bimantoro, pria yang sering disapa Egan itu. Dalam situasi dan suasana tenang sebelum apel pagi, seperti biasa para Guru serta Tenaga Kependidikan mulai bergegas untuk mengikuti apel hari Sumpah Pemuda sekaligus mengikuti proses serah terima kepengurusan OSIS yang baru. Pembina Upacara I Made Danu dalam amanatnya menjelaskan bahwa, menjadi seorang pemimpin dan pengurus sebuah organisasi (OSIS) berarti harus mampu memimpin diri sendiri. Bagaimana mungkin kita memimpin orang lain, jika kita tidak memiliki kapabilitas sebagai pemimpin? Lebih lanjut, pelantikan sekaligus penyerahan tongkat estafet kepemimpinan di hari sumpah pemuda adalah dua hal yang memiliki nilai dan makna yang sama yaitu, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, Di kala pemuda bersumpah menjaga persatuan bangsa, di situlah OSIS harus mampu menjaga persatuan dan kesatuan seluruh siswa-siswi tanpa membeda-bedakan apalagi mendiskriminasi. Momen ini pun harus menjadi langkah penting untuk pembenahan sekaligus transisi dari hal lama ke hal baru, tuturnya. Pada momen tersebut juga I Made Danu memberikan appreciate kepada para pengurus lama yang telah berkontribusi selama setahun, dan juga totalitas yang tak kenal waktu.
Mantan Ketua OSIS periode 2025/2026, Amorra Maliycha Aisha Toekan saat dimintai keterangan setalah penyerahan tongkat estafet kepemimpinan beliau menjelaskan bahwa, menjadi pemimpin harus mempunyai visi yang kuat, juga totalitas serta konsistensi dalam menjaga marwah kepemimpinan. Menurut Amorra, OSIS bukan hanya sebuah wadah aspirasi, tetapi lebih dari itu adalah pelayan yang harus berkontribusi tanpa pamrih.
Salah satu siswi dari kelas IX atas nama Imaculata Audrey Sulistyo mantan anggota OSIS (dari divisi bela negara) memberikan persepsinya setelah penyerahan tongkat kepemimpinan; bahwasanya pemilihan dan pelantikan OSIS tahun ini menjadi momen yang berbeda dari tahun sebelumnya. Ia menyampaikan bahwa struktur kepengurusan OSIS mulai dari Ketua dan Wakil sampai pada staf-stafnya begitu antusias menyambut hari pelantikan dan pergantian kepengurusan. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kehadiran pemimpin baru dalam OSIS mesti menyadari pentingya nilai Pancasila dalam membangun struktur kepengurusan OSIS tersebut. Audrey Sulistyo juga memberikan pesannya, bahwa OSIS adalah wadah untuk pendampingan dalam pembentukan karakter bagi siswa-siswi dalam berkarya dan berprestasi, bukan sekadar halusinasi.
Baca juga: Mahasiswa Magang WHN Sosialisasikan Organisasi Sekaligus Menjadi Agen Perlinsos.
Di tengah tuntutan pendidikan modern, sekolah tidak hanya menjadi tempat mengasah kemampuan akademik semata. Tetapi lebih dari itu, sekolah harus menjadi tempat dimana generasi muda belajar berinteraksi dan belajar menjadi pempimpin yang humanis. Dalam filsafat, makna dari kepemipinan sejati itu seperti memasuki sebuah taman yang dipenuhi oleh beragam pemikiran dan ide-ide brilian yang telah menginspirasi banyak generasi (bdk. Dionisius Riandika, Filsafat Kepemimpinan). Siswa dan siswi perlu memahami bahwa kepemimpinan dalam berorganisasi lebih dari sekadar sebuah kekuasaan; ia adalah sebuah seni yang memadukan vision, accountability, dan mentality. Organisasi merupakan kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian dalam perkumpulan untuk tujuan tertentu, dan atau kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama” (bdk. KBBI, No. 802). Jika organisasi merupakan kesatuan yang terdiri atas bagian-bagiannya untuk mencapai sebuah tujuan tertentu, maka tujaun tersebut harus menjadi tujuan untuk kebaikan bersama (bonum commune).