Selama kegiatan berlangsung, suasana penuh persaudaraan terasa kuat. Tim dan masyarakat bertemu bukan sekadar sebagai pemberi dan penerima bantuan, melainkan sebagai sesama saudara yang sedang berbagi rasa dalam menghadapi penderitaan akibat bencana.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi para pater, suster, frater, mitra awam, dan masyarakat untuk saling menguatkan. Di tengah kerusakan rumah dan ketidakpastian yang dihadapi warga, kehadiran tim kemanusiaan memberikan pesan bahwa masyarakat Teno Mese tidak berjalan sendirian dalam menghadapi situasi pascabencana.
Bagi masyarakat yang terdampak, bantuan berupa bahan makanan dan kebutuhan dasar memang penting. Namun, lebih dari itu, kehadiran orang-orang yang datang untuk mendengarkan, menyapa, melayani, dan berbagi menjadi bentuk dukungan moral yang tidak kalah berarti.
Ditutup dengan Ekaristi di Tenda Pengungsian
Misi kemanusiaan tersebut kemudian ditutup dengan perayaan Ekaristi bersama di tenda pengungsian. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh P. Nard Hayong, SVD, sementara P. Otto Gusti, SVD, membawakan homili.
Perayaan Ekaristi di tengah tenda pengungsian menjadi penutup yang penuh makna. Setelah berbagi bantuan, memberikan pelayanan kesehatan, dan membangun kebersamaan dengan masyarakat, rombongan kembali meneguhkan harapan bahwa di tengah penderitaan akibat bencana, solidaritas dan kasih persaudaraan harus terus dihidupkan.
Misi kemanusiaan di Desa Teno Mese menjadi sebuah kesaksian bahwa kasih tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan melalui kehadiran dan tindakan nyata. Di tengah keterbatasan dan tantangan pascabencana, uluran tangan dari berbagai pihak menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk bertahan, memulihkan kehidupan, dan menatap masa depan dengan harapan.
