Namun, tantangan di era kini dinilai tak kalah berat. Kepala Sekolah SMP Yapenthom 1, Gabriella Erika, membeberkan sulitnya merubah pola pikir orang tua murid dalam memperoleh kualitas pendidikan yang baik.
“Kami SMP Yapentom 1 itu kalau dibilang berkualitas, kami berkualitas karena pendidik kami adalah para sarjana yang bersertifikasi. Lalu punya kemampuan, selain di bidang sesuai dengan basic ilmu mereka, mereka punya kemampuan yang lebih untuk itu. Tapi pandangan orang tua selalu mengarah ke yang gratis dan yang murah. Itu menjadi tantangan, bagaimana kita mengubah mindset orang tua, buanglah uang yang lebih banyak untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang bagus,” ujarnya.
Gabriela juga melayangkan sorotan kritis terkait persaingan sekolah negeri dan swasta, serta kebijakan pemerintah daerah yang terkesan kurang berpihak pada keberlangsungan sekolah swasta bersejarah.
“Menurut saya mungkin pemerintah hanya ingin mengimbangi pandangan masyarakat, ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk belajar, tetapi tidak memperhatikan ketika membangun sekolah harus melihat area ini sekolahnya mana saja. Area kota ini berapa SMP, berapa SMA, bukan hanya karena lahannya kosong, kalau misalkan 10 atau 20 sekolah di SMP yang dibangun oleh sekolah negeri lalu swasta ini diabaikan, sedangkan suplai siswa dari SD ke SMP-nya tidak bisa, jelas kami akan sangat dirugikan.,” pungkas Gabriella.
Gabriella menegaskan bahwa Yapenthom tetap memegang teguh komitmen sosialnya untuk mendidik dengan hati (educating with heart).
“Ketika sekolah lain mungkin menggeser calon siswa karena keterbatasan biaya, Yapenthom selalu terbuka menerima masyarakat kalangan menengah ke bawah. Ada yang bertahun-tahun baru bisa menyelesaikan SPP sampai tamat, kami tetap terima dan tidak pernah mengusir mereka. Kami sederhana, tetapi soal kualitas pendidik, kami didukung oleh sarjana-sarjana bersertifikasi yang kompeten,” tegasnya.
Melalui momentum perayaan HUT ke-79 ini, Yayasan Pendidikan Thomas mengajak seluruh masyarakat, alumni, dan pemerintah untuk kembali bergandengan tangan, merawat warisan sejarah pendidikan, serta menguatkan masa depan generasi penerus bangsa di Tanah Sikka.