Atap Bocor, Harapan Menetes: Pidelis Liseng dan Maria Pinteja Menanti Uluran Tangan

Saat ditemui media inj, Pidelis berbicara dengan suara pelan. Di sampingnya, Maria Pinteja hanya sesekali menyeka air mata yang mulai menggenang. Keduanya tampak menahan kesedihan ketika menceritakan kehidupan yang dijalani di rumah yang semakin rapuh.

Potret rumah pasangan lansia ini menjadi gambaran bahwa di pelosok Kabupaten Sikka masih ada warga yang menjalani hari-hari dalam keterbatasan. Di saat banyak program pembangunan terus digulirkan, mereka masih menunggu satu hal yang sederhana: rumah yang mampu melindungi dari panas dan hujan.

Berdasarkan kondisi fisik bangunan, rumah tersebut sudah mengalami kerusakan pada bagian atap, dinding, serta rangka penyangga yang mulai rapuh. Jika tidak segera mendapat perhatian, kerusakan dikhawatirkan akan semakin parah dan membahayakan keselamatan penghuninya.

Kini, harapan Pidelis Liseng dan Maria Pinteja tidak muluk-muluk. Di sisa usia mereka, pasangan lansia itu hanya ingin memiliki tempat tinggal yang layak rumah yang tidak lagi bocor saat hujan turun dan tidak membuat mereka dihantui rasa takut setiap kali angin bertiup kencang.

Di balik dinding bambu yang mulai lapuk dan terpal yang berkibar diterpa angin, tersimpan kisah tentang dua orang tua yang tetap bertahan menjalani hidup. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap dapat menghabiskan masa tua dengan rasa aman di rumah yang benar-benar pantas disebut sebagai tempat berlindung.

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler