Menjadi Ethical Gatekeeper: Menghidupkan Kembali Peran Guru di Era AI ala Ramir S. Austria

"Guru harus menjadi pihak pertama yang menyusun aturan main di kelas. Pada tugas apa saja AI boleh digunakan? Di titik mana AI dilarang keras? Harus ada transparansi yang disepakati bersama siswa agar penilaian tetap berjalan adil (fairness) dan integritas akademik tetap terjaga".
Penulis, Mahasiswa Semester IV Prodi Bahasa Inggris Unika Santo Paulus Ruteng.

Kesimpulan: Menghidupkan Kembali Ruh Pendidik

Menjadi ethical gatekeeper berarti menyadari bahwa AI adalah media, bukan pengganti. Teknologi boleh memegang kendali atas kecepatan data, tetapi gurulah yang memegang kendali atas moral, empati, dan kebijaksanaan.

Pesan kuat dari Mr. Rasmin Austria, Ph.D. mengingatkan kita semua bahwa esensi dari pendidikan bukan sekadar menyelesaikan tugas atau mentransfer pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia (humanizing people). Di era kecerdasan buatan, peran guru tidak menyusut; ia justru menjadi semakin vital sebagai benteng terakhir yang menjaga agar ruang-ruang kelas kita tidak berubah menjadi dingin dan mekanis seperti mesin.

 

Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNUsantara.com.

 

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru