Menjadi Ethical Gatekeeper: Menghidupkan Kembali Peran Guru di Era AI ala Ramir S. Austria

"Guru harus menjadi pihak pertama yang menyusun aturan main di kelas. Pada tugas apa saja AI boleh digunakan? Di titik mana AI dilarang keras? Harus ada transparansi yang disepakati bersama siswa agar penilaian tetap berjalan adil (fairness) dan integritas akademik tetap terjaga".
Penulis, Mahasiswa Semester IV Prodi Bahasa Inggris Unika Santo Paulus Ruteng.

Guru harus menjadi pihak pertama yang menyusun aturan main di kelas. Pada tugas apa saja AI boleh digunakan? Di titik mana AI dilarang keras? Harus ada transparansi yang disepakati bersama siswa agar penilaian tetap berjalan adil (fairness) dan integritas akademik tetap terjaga.

Memberikan Umpan Balik yang Korektif (Feedback Mechanism)

Sebagai gatekeeper, guru harus memiliki kepekaan untuk mendeteksi kapan sebuah karya kehilangan “ruh manusia”-nya. Ketika tugas yang dikumpulkan siswa terindikasi melanggar etika atau murni hasil salinan mesin, guru harus segera mengambil tindakan, mengajak berdialog, dan meluruskannya.

 Menjaga Integritas Institusi

AI bekerja berdasarkan data yang sudah ada, yang sering kali membawa bias tertentu. Pendidik bertanggung jawab memastikan bahwa penggunaan AI di lingkungan kampus atau sekolah tidak merusak nilai-nilai moral dan nama baik institusi akademik.

Menyelaraskan Teknologi dengan Akar Budaya

Salah satu poin menarik dari pemikiran Rasmin Austria adalah pentingnya kembali ke akar budaya lokal (local culture). AI bersifat global dan homogen, sementara pendidikan harus tetap inklusif dan menghargai identitas serta kearifan lokal tempat peserta didik tumbuh.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru