Arus Media Sosial dan Degradasi Karakter Bangsa

Fenomena hoaks dan disinformasi yang marak di media sosial semakin memperburuk keadaan karena minimnya filter kualitas informasi. Generasi muda sering kali kesulitan membedakan fakta dan opini, sumber kredibel dan tidak kredibel, maupun argumen logis dan manipulasi emosional.
Aprianus Gregorian Bahtera, Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Widya Mandira Kupang

Fenomena hoaks dan disinformasi yang marak di media sosial semakin memperburuk keadaan karena minimnya filter kualitas informasi. Generasi muda sering kali kesulitan membedakan fakta dan opini, sumber kredibel dan tidak kredibel, maupun argumen logis dan manipulasi emosional. Informasi dibagikan tanpa verifikasi, sementara narasi yang menggugah emosi lebih mudah dipercaya meskipun tidak didukung data yang valid. Keterampilan literasi digital dan literasi media yang seharusnya menjadi kompetensi dasar abad ke-21 justru belum terbangun secara optimal, baik dalam pendidikan formal maupun informal.

Pembentukan Karakter yang Rapuh dan Bergantung

Media sosial menciptakan lingkungan yang mendorong pembentukan identitas berdasarkan validasi eksternal, bukan nilai internal yang kokoh. Anak-anak dan remaja mengukur harga diri mereka dari jumlah likes, pengikut, dan komentar positif yang diterima. Ketika unggahan mereka tidak mendapatkan respons sesuai harapan, muncul perasaan tidak berharga, cemas, bahkan depresi. Karakter yang seharusnya dibangun di atas integritas, kejujuran, dan prinsip moral perlahan tergantikan oleh popularitas, penampilan, dan kepemilikan barang bermerek yang dianggap layak dipamerkan di media sosial.

Budaya pamer dan kompetisi tidak sehat juga membentuk mentalitas materialistis dan konsumtif sejak usia dini. Anak-anak sekolah dasar mulai mengenal merek fesyen terkenal dan menginginkan barang mahal demi kebutuhan konten. Remaja menghabiskan uang jajan untuk menunjang citra di dunia maya, sementara mahasiswa terjebak dalam gaya hidup ala influencer yang tidak realistis. Mereka berusaha tampil sempurna di media sosial meskipun kondisi finansial dan mental sebenarnya tidak stabil.

Ketergantungan pada media sosial turut melemahkan kemampuan bersosialisasi secara langsung dan mengelola emosi dengan sehat. Generasi muda lebih nyaman berkomunikasi melalui pesan singkat dibanding tatap muka. Mereka menghindari konflik secara langsung, tetapi berani menyerang di ruang digital. Kemampuan membaca

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru