PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Larantuka, Gelap di Lapangan Seburi I perlahan terpecah. Satu per satu nyala lilin muncul di tangan orang-orang muda, disusun membentuk huruf U dan salib di tengah lapangan. Cahaya kecil itu terus bertambah hingga malam yang dingin di Ritawolo dipenuhi seribu titik terang. Lamat-lamat, suara berat dari tengah kerumunan mulai terdengar.
“Di sini ada cahaya, di sana ada harapan. Lilin-lilin harapan yang kita nyalakan ini sebagai bentuk solidaritas terhadap saudara-saudari kita yang terdampak gempa. Malam ini, kita lambungkan untaian doa dalam lilin-lilin harapan ini. Ada begitu banyak mereka yang menjadi korban, banyak jiwa tak bersalah yang direnggut, mereka pergi tanpa pamit dengan orang-orang tercinta. lilin-lilin yang bernyala malam ini adalah doa paling tulus bagi mereka yang telah meninggal. Lilin harapan ini juga menjadi doa bagi mereka yang kehilangan rumah, harta benda, orang-orang tercinta dan kehilangan cinta itu sendiri.” Suara dari Romo Sam Beraona, Pr dalam suasana khusyuk di malam yang dingin dengan diselingi instrumen yang syahdu terdengar menggelegar di lapangan Seburi I dan menjadi prolog kegiatan aksi seribu lilin dari Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo untuk para korban gempa Flores. Kegiatan ini dilangsungkan di Desa Seburi I, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT, Senin (7/9/2026) malam. Kegiatan ini bertajuk ‘Aksi Seribu Lilin, Pray For Flores’. Aksi seribu lilin yang dirangkum dalam doa bersama dipimpin oleh Romo Sam Beraona, Pr, didampingi Diakon Rikard, SVD, dan Fr. Erik Witin. Hadir dalam kegiatan ini Kapolsek Waiwadan, Kepala Desa Bukit Seburi I dan Bukit Seburi II, para tokoh adat, para pendamping OMK serta umat di Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo.
Rangkaian acara aksi solidaritas seribu lilin ini dimulai dengan pengantar singkat dari Romo Sam Beraona, Doa bersama, menyalakan lilin, puisi ‘Jeritan Hati OMK Ritawolo untuk Korban Gempa’ dari Jhon Masan, Renungan I dari Diakon Rikard, SVD, Renungan II dari Fr. Erik Witin, Doa umat dari OMK, Peneguhan dari Romo Sam dan ditutup dengan menyanyikan lagu ‘Dalam Yesus Kita bersaudara’.
Baca juga: Fokus Pemulihan Pasca-Bencana, Kasatgas Bencana Kab. Sikka Tekankan Skala Prioritas Bantuan
Gempa Flores dan ‘Wajah Yang Lain’
Menurut data BMKG pada 15 Agustus 2026 terjadi gempa besar bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores. Episentrumnya berada di laut, sejauh 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, pada kedalaman 15 kilometer. Gempa ini juga memicu peringatan potensi tsunami dan disusul ribuan gempa susulan. Di hadapan gempa yang terjadi, sisi kemanusiaan kita disentuh oleh ‘wajah yang lain’ itu untuk ikut merasakan penderitaan dan keterlukaan mereka. Bencana ini bukan sekadar peristiwa alam. Di balik angka korban, rumah-rumah yang rusak, keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, dan hidup yang mendadak harus dimulai dari tempat-tempat pengungsian, ada manusia dengan wajah, nama, kisah, harapan, dan luka. Karena itu, ketika berhadapan dengan penderitaan yang dialami saudara-saudari yang menjadi korban gempa, sisi kemanusiaan kita disentuh oleh apa yang disebut Filsuf Emmanuel Levinas sebagai “wajah Yang Lain” (the face of the Other).
Wajah adalah sebuah panggilan etis untuk tidak membiarkan para korban berjalan sendiri dan menderita. Wajah korban gempa Flores memanggil kita untuk terlibat dan merasakan keterlukaan mereka. Pertemuan dengan wajah yang terluka membuat kita sadar bahwa hidup kita tidak hanya tentang diri sendiri. Kita dipanggil untuk bertanggung jawab terhadap kehidupan dan penderitaan orang lain juga. Karena itu, aksi Seribu Lilin oleh OMK Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo bukan sekadar kegiatan simbolis sebab setiap lilin yang dinyalakan menjadi tanda bahwa OMK memilih untuk terlibat dan peduli. Cahaya lilin yang membunuh kegelapan di Ritawolo menjadi simbol solidaritas bahwasannya OMK berada bersama para korban dalam penderitaan yang sedang dialami. Aksi seribu lilin ini adalah bukti solidaritas untuk membiarkan penderitaan orang lain menyentuh hati dan menggerakkan tindakan kita.
Baca juga: Sudah 5 Hari Mengungsi Tanpa Bantuan, Warga Wolomarang Kecewa Dipaksa Pulang oleh Lurah
Menjadi Cahaya dan Harapan bagi yang Terluka
