Dalam sesi renungan yang dibawakan oleh Romo Sam Beraona, Diakon Rikard, SVD, dan Fr. Erik Witin, secara garis besar menegaskan kepada OMK untuk menjadi cahaya dan pembawa harapan di tengah situasi yang sedang melanda para korban gempa. Pada renungan pertama, Diakon Rikard menyentil pengalaman penderitaan manusia dengan mempertanyakan eksistensi Allah dalam penderitaan yang dialami untuk membantu OMK merefleksikan lebih mendalam makna dibalik pengalaman itu.
“Malam ini, dengan lilin bernyala di tangan, kita bertanya: Mengapa penderitaan harus ada, mengapa gempa harus melululantahkan bumi Flores tercinta kalau Tuhan itu Mahapengasih dan Mahakuasa sekaligus, bukankah seseorang yang mengasihi orang lain, Ia tidak mungkin menciptakan penderitaan bagi sesamanya. Dan seseorang yang Mahakuasa pasti bisa mengatasi segala penderitaan tersebut. Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan? Mengapa tanah yang selama ini menjadi tempat kita berpijak tiba-tiba bergerak, meruntuhkan rumah, memisahkan keluarga, dan merenggut orang-orang tercinta?” Pertanyaan dari Diakon Rikard itu tidak dimaksudkan untuk menghadirkan jawaban yang tergesa-gesa. Sebaliknya, OMK diajak tinggal sejenak dalam misteri penderitaan dan melihat bagaimana iman dapat hadir di tengah luka. Lebih lanjut, Fr. Erik Witin dalam renungan keduanya menegaskan tentang pentingnya harapan yang tidak pupus dalam keadaan ini dan menjadi cahaya bagi sesama. “Malam ini, kita berkumpul bukan hanya untuk berdiri dalam kegelapan, melainkan untuk membawa seberkas cahaya. Setiap nyala lilin mewakili doa dan ingatan kita yang tidak pernah padam bagi sama saudara yang tertimpa gempa bumi. Dalam aksi seribu lilin ini, kita percaya bahwa gempa yang terjadi tidak mampu meruntuhkan semangat, kasih sayang, kepedulian, dan keteguhan kita sebagai saudara.” Renungan Fr. Erik Witin yang saat ini sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Ritawolo. Dalam Renungan akhir, Romo Sam Beraona kembali menyentil tentang cahaya dan harapan dengan menegaskan bahwa keterlukaan yang dialami oleh para korban gempa mesti menjadi keterlukaan dan salib bagi kita juga.
“Dari tanah terberkati, lewotana Ritawolo ini kita belajar untuk paham dan mengerti bahwa luka yang mereka alami adalah juga menjadi luka kita bersama. Malam ini, dalam iman kita diajarkan bahwa ketidakmengertian kita tentang semua penderitaan yang dialami bukan berarti Tuhan tidak ada. Kita percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan manusia di dalam penderitaannya. Tuhan hadir dalam tangan-tangan yang menolong, dalam orang-orang yang datang membawa makanan, dalam relawan yang mengangkat reruntuhan, dalam pelukan seorang ibu, dalam doa-doa yang tidak pernah berhenti, dan dalam aksi seribu lilin kita untuk mengatakan bahwa harapan itu masih ada dan kita mesti menjadi cahaya bagi sesama.” Ucap Romo asal Lamalera ini dengan lantang.
Cinta yang Tidak Padam dari Ritawolo
Sebagai bentuk solidaritas yang tidak selesai dalam aksi seribu lilin ini, OMK Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo mengedar kotak amal dari rumah ke rumah di setiap Stasi untuk membantu para korban. Ketua OMK Paroki Ritawolo, Wens Herin, menjelaskan bahwa aksi solidaritas ini sebagai bukti cinta dan persaudaraan yang tidak pernah padam untuk para korban. “Solidaritas seribu lilin dan doa bersama ini sebagai bentuk kepedulian serta keterlibatan yang mendalam atas peristiwa yang dialami oleh para korban gempa bumi. Doa dan dukungan ini mungkin tampak sederhana tetapi langkah ini memberikan harapan untuk tidak merasa sendiri dalam penderitaan ini,” tandas Wens di sela-sela aksi seribu lilin.
Lebih lanjut Yanna Ritan, OMK dari Stasi Ritawolo memberikan komentar tentang aksi seribu lilin ini sebagai bentuk cinta yang tidak padam. “Malam ini, kami OMK juga belajar untuk menjadi lilin, menjadi cahaya bagi sesama secara khusus untuk mereka yang terluka. Malam ini, kami mungkin tidak mampu menjawab seluruh misteri penderitaan. Tetapi kami bisa memilih untuk tidak membiarkan penderitaan membuat kami berhenti mencintai dan peduli bagi sesama. Dan ketika seribu lilin ini bernyala, semoga kita semua mengerti bahwa kita mungkin tidak dapat mengusir seluruh kegelapan, tetapi kita selalu dapat memilih untuk menjadi cahaya.” Komentar Yanna dengan senyum takzim.
Aksi seribu lilin itu berakhir setelah OMK menyanyikan bersama ‘Dalam Yesus Kita Bersaudara’ sambil bergandengan tangan mengitari lilin-lilin yang bernyala dan merayakan persaudaraan dalam makan malam bersama. Malam di lapangan Seburi I selesai, lilin padam, tetapi solidaritas tetap menyala.
