PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Perkembangan teknologi generative saat ini telah mengubah hampir setiap aspek kehidupan manusia, lebih khusus pada perkembangan dunia pendidikan. Perubahan ini terjadi melalui bagaimana sesorang mengakses informasi, mengerjakan dan menyelesaikan tugas akademik yang lebih cepat dan instan. Namun, dalam hal ini banyak sebagian mahasiswa yang justru tidak beretika dalam menggunakannya. Banyak di antara mereka tidak jujur dalam menggunakan AI, misalnya pada saat mengerjakan tugas, di mana mereka lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya oleh AI, bukan dari hasil ide atau pikiran mereka sendiri.
Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan terkait integritas mahasiswa di era teknologi generative. Menurut salah satu dosen yang berperan dalam membimbing dan juga mengawasi proses pembelajaran di kampus “Yustus Sentus Haloem”, “integritas itu sangat penting karena AI seharusnya hanya menjadi asisten, bukan menjadi tuan atas kemampuan kita”. Pernyataan ini memberi penegasan bahwa AI hanyalah sebagai media untuk membantu mahasiswa memahami materi yang sulit dan juga dapat mengembangkan ide. Bukan untuk menggantikan peran atau usaha mahasiswa itu sendiri dalam memahami materi.’’Mahasiswa boleh menggunakan AI sepanjang mereka tahu dan mengerti yang mereka dapatkan.Akan tetapi, jika mereka tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang mereka dapatkan, integritas dan juga etika mereka patut untuk dipertanyakan,” ujarnya lagi.Pernyataan ini menytakan bahwa penggunaan AI sangat diperbolehkan akan tetapi mahasiswa harus mampu mempertanggungjawabkan apa yang mereka dapatkan.
Sementara itu, dari sudut pandang mahasiswa yang juga menggunakan ai terdapat beberapa faktor, seperti tekanan tugas dan keterbatasan waktu yang dimiliki. Menurut salah satu mahasiswa Feby Reku, yang menyatakan bahwa ” banyak mahasiswa menggunakan AI karena ingin menyelesaikan tugas dengan cepat, terutama saat tugas banyak dan waktu yang terbatas”. Hal tersebut mengklaim bahwa penggunaan AI oleh mahasiswa bukan didasarkan pada niat untuk melanggar etika akademik, tetapi dikarenakan tuntutan akademik yang tinggi. Namun, apabila tidak didasarkan oleh kesadaran etika, hal tersebut dapat berdampak negatif terhadap penurunan kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.
Dengan demikian, peru bahan etika akademik mahasiswa di era teknologi generative dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi dasar terjadinya perubahan tersebut, yaitu integritas pribadi dan kebijakan institusi pendidikan. Oleh karena itu, kesadaran mahasiswa akan kehadiran AI sebagai alat bantu bukan sebagai pengganti kemampuan dalam berpikir sangat dibutuhkan. Di sisi lain, kebijakan-kebijakan yang kampus terapkan harus jelas dan tegas tentang penggunaan AI, agar mahasiswa sebagai pengguna AI tetap berlandaskan pada nilai-nilai etika akademik.
Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.
Baca juga: Menjadi Ethical Gatekeeper: Menghidupkan Kembali Peran Guru di Era AI ala Ramir S. Austria