PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Berikut merupakan sebuah cerpen yang ditulis oleh Allex Sehatang. Allex Sehatang adalah seorang pegawai di IFTK Ledalero yang tekun di bidang tulis menulis. Banyak karya yang sudah dipublikasikan bahkan telah menyabet beberapa gelar juara. Selamat membaca.
Baca juga: SENJA MERAH SAGA DI FATUCAMA
Sore itu, Rikus duduk di beranda rumah dengan secangkir kopi yang mulai kehilangan uapnya. Asap rokok yang melingkar di udara seakan sedang menulis sesuatu yang tak pernah selesai dibaca. Ia meminum kopi perlahan, seolah waktu memang diciptakan untuk dinikmati seteguk demi seteguk, bukan untuk dikejar.
Lamunannya pecah ketika suara bentakan dari rumah sebelah mengiris senja.
“Sudah tiga hari tidak ada beras! Kau pikir anak-anak bisa makan janji?”
Suara itu menggema, bukan hanya di dinding-dinding rumah reyot, tetapi juga di ruang batin Rikus yang telah lama akrab dengan kenyataan bahwa kemiskinan sering kali membuat cinta kehilangan tata bahasanya.
Matanya beralih ke halaman tetangga. Di bawah sebuah pohon tua yang rantingnya menggantung letih, seorang anak bungsu duduk memeluk lutut. Pohon itu menyimpan kisah yang enggan dilupakan. Ibunya pernah berkata, dua tahun silam seorang lelaki menggantung hidupnya di sana setelah kesetiaannya dikalahkan oleh pengkhianatan.
Sejak saat itu, pohon itu tak lagi sekadar pohon. Ia menjadi museum sunyi bagi luka yang tak pernah dimakamkan.
Anak itu menunduk. Bibirnya bergerak lirih.
“Kak… apakah aku harus menjelma menjadi cemasmu ketika lapar dan haus telah dipeluk bianglala buram milik iblis?”
Rikus tercekat.
Ia tak sepenuhnya memahami kalimat itu, tetapi ia mengerti kesedihan memiliki bahasa yang tak selalu membutuhkan makna.
Beberapa saat ia hanya memandang. Dalam dirinya, intuisi dan akal saling berdebat. Ada suara yang memintanya mendekat, ada pula yang menyuruhnya tetap menjadi penonton.
Ia menyelipkan rokok di telinga.
Udara mendadak terasa lebih dingin daripada biasanya.
Tatapannya tak lepas dari anak itu. Ada sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kesedihan anak itu terlalu tua untuk usia yang masih begitu muda.
“Seandainya orang tuanya mendengar bahwa anaknya sedang disalib oleh kecemasan…” gumam Rikus dalam hati.
“Seandainya anak itu tahu bahwa orang tuanya di dalam rumah juga sedang menawar janji.”
Ia menghela napas panjang.
Manusia memang sering saling menyalahkan, padahal mereka sama-sama menjadi korban dari luka yang berbeda.
Empati membuatnya ingin menghampiri anak itu. Namun hidup telah mengajarinya bahwa niat baik tidak selalu memiliki keberanian.
Barangkali karena ia sendiri pernah menjadi tempat seseorang menyimpan seluruh dukanya.
Dahulu ada seorang perempuan yang menjadikan Rikus halaman-halaman diarinya. Semua tangis, semua mimpi, semua harapan dititipkan kepadanya. Namun ketika perempuan itu menemukan kebahagiaan, Rikus ditinggalkan seperti buku usang yang tak lagi dibuka.
Sejak saat itu ia mengerti, tidak semua orang yang datang untuk bercerita berniat tinggal.
Lamunannya buyar ketika anak itu kembali bersuara.
“Kak… hilangmu terus merinai di bibirku. Rumah kita sekarang lebih akrab dengan marah, tangis, benci, dan penyesalan.”
Kalimat itu meluncur perlahan, lalu jatuh tepat di bawah ranting yang hampir patah.
Rikus menatap rinai hujan yang telah melubangi atap selasarnya.
Dalam benaknya tumbuh sebuah kesadaran.
Mencintai bukanlah memiliki segala sesuatu, bukan pula memaksa sesuatu menjadi ada. Mencintai adalah memberi ruang bagi keberadaan orang lain, bahkan ketika keberadaan itu tak lagi berpihak kepada kita.
Bara rokok menyentuh jemarinya.
Ia tersentak.
Rasa sakit yang singkat itu mengingatkannya bahwa luka di kulit selalu lebih mudah sembuh daripada luka yang tinggal di hati.
Ia kembali menyalakan sebatang rokok.
Dari kejauhan seekor anjing melolong, membelah keheningan senja.
Anak itu perlahan berdiri. Air matanya masih menggantung di pipi.
Sebelum masuk ke rumah, ia kembali berbisik.
“Kak… rinduku tidak pernah berbekas pada tangis. Ia hanya terus berjalan menuju debumu.”
Langkah kecil itu menghilang di balik pintu.
Yang tertinggal hanyalah sunyi.
Dan pohon tua yang tetap berdiri sebagai saksi bahwa manusia sering menyimpan lebih banyak kematian di dalam hati daripada di dalam kubur.
Rikus menyesap sisa kopinya.
Ia kembali tenggelam dalam pikirannya.
Barangkali luka bukan hanya tentang kehilangan.
Bukan pula sekadar perpisahan.
Luka adalah ketika seseorang masih ada, tetapi tak lagi benar-benar hadir.
Ketika tubuh menetap, tetapi jiwa telah lama berpamitan.
Di situlah manusia belajar bahwa keberadaan jauh lebih berharga daripada kepemilikan.
Baca juga: Pada Sebuah Rel Kereta Tak Bertuan
“Sayang… aku, Nia, dan Lia sudah siap. Kita berangkat rosario jam berapa?”
Suara Paulia memecahkan renungannya.
Rikus menoleh sambil tersenyum tipis.
“Iya, Sayang. Tunggu sebentar. Biar rokok ini menjadi yang terakhir untuk sore ini.”
Ia mematikan puntung rokok di asbak.
Secangkir kopi telah tandas.
Senja pun perlahan turun.
Namun di bawah pohon tua itu, Rikus tahu, selalu ada cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Sebab sebagian darah yang paling merah bukanlah yang mengalir dari tubuh, melainkan yang diam-diam menetes dari hati manusia.