Antologi Puisi Martin Meli

"Puisi-puisi dalam antologi ini tidak dimaksudkan sebagai penghakiman, melainkan sebagai undangan untuk merenung. Sebab sastra tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban, tetapi sering kali mengajarkan manusia agar berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar: ke mana arah peradaban ini dibawa, siapa yang menikmati kemajuan, siapa yang tertinggal, dan apakah manusia masih menjadi pusat dari setiap pembangunan yang diciptakannya".
Martin Meli, Penulis.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM-Sahabat Perspektif Nusantara yang budiman, Zaman yang kita hidupi hari ini bergerak begitu cepat. Dunia dipenuhi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, olahraga, ekonomi, hingga diplomasi internasional. Namun, di balik segala pencapaian itu, manusia masih bergumul dengan persoalan yang sama: perang, ketimpangan, kemiskinan, krisis moral, ketidakadilan, dan pudarnya nilai-nilai kemanusiaan. Peradaban terus berkembang, tetapi nurani sering kali tertinggal.

Antologi puisi ini lahir sebagai ruang refleksi terhadap berbagai realitas tersebut. Setiap puisi mencoba membaca wajah dunia dari sudut yang berbeda: tentang perang yang terus diproduksi atas nama kepentingan, gegap gempita olahraga yang kerap menutupi derita sesama, pertumbuhan ekonomi yang belum tentu menghadirkan kesejahteraan, politik yang kehilangan integritas, energi yang belum dinikmati secara adil, hingga perkembangan kecerdasan buatan yang menantang manusia untuk tetap menjaga nilai kemanusiaannya.

Puisi-puisi dalam antologi ini tidak dimaksudkan sebagai penghakiman, melainkan sebagai undangan untuk merenung. Sebab sastra tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban, tetapi sering kali mengajarkan manusia agar berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar: ke mana arah peradaban ini dibawa, siapa yang menikmati kemajuan, siapa yang tertinggal, dan apakah manusia masih menjadi pusat dari setiap pembangunan yang diciptakannya.

Baca juga: PERGI |Antologi Puisi |MARTIN MELI

Selamat membaca. Semoga setiap bait dalam antologi ini menjadi ruang dialog antara akal dan hati, antara kritik dan harapan, sehingga pada akhirnya kita semakin menyadari bahwa kemajuan yang sejati bukan hanya diukur dari besarnya kekuasaan, kecanggihan teknologi, atau tingginya pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kemampuan manusia untuk menjaga keadilan, merawat perdamaian, dan tetap memanusiakan sesamanya.

 

 PABRIK DAMAI

Baca juga: Kumpulan Puisi Aprianus

 

Halaman: 123456789

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler