Antologi Puisi Martin Meli

"Puisi-puisi dalam antologi ini tidak dimaksudkan sebagai penghakiman, melainkan sebagai undangan untuk merenung. Sebab sastra tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban, tetapi sering kali mengajarkan manusia agar berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar: ke mana arah peradaban ini dibawa, siapa yang menikmati kemajuan, siapa yang tertinggal, dan apakah manusia masih menjadi pusat dari setiap pembangunan yang diciptakannya".
Martin Meli, Penulis.

Mereka membangun istana dari peta yang robek,

Mengukur bumi dengan ujung laras.

Di ruang diplomasi, senyum dipoles,

Sementara mesiu diam-diam belajar bernapas.

 

Tak ada perang yang lahir sendirian;

Ia disusui ambisi dan disapih keserakahan.

Halaman: 123456789

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler