PERSPEKTFINUSANTARA.COM-Pembaca yang budiman. Puisi- puisi berikut merupakan buah permenungan penulis dalam waktu-waktu luang. Setiap detik pengalaman memiliki makna apabila dihayati lebih intim. Belajar dari puisi-puisi berikut, setiap pengalaman hidup sekecil apapun itu harus memiliki ruang untuk dijadikannya abadi. Semoga puisi ini menjadi abadi di hati penulis juga di hati pembaca. Selamat menikmati.
Rindu
Baca juga: Pemkab TTU Dorong Budaya Literasi Dengan Perkuat Akreditasi Perpustakaan Sekolah dan Desa
Adalah tentang mawar yang kauberikan namun semenjak menepi pada ruang yang lain.
Kamupun hanyalah seperti penunggu sialan yang ingin temu dengannya entah kapan.
Dan dalam dadamu hanyalah bak layaknya mendung menanti hujan.
Dan hujan menantikan pelangi yang entah kapan melengngkung indah di depan tatapmu.
Dan tentang rindu kemanakah itu harus kau akhiri.
Tentu adalah adil membiarkannya berlalu.
Tapi tentang yang lagi risau biarkanlah ratap mengartikan kesakitan.
Tapi bisa jadi senyum yang merangkup semuanya pada mustakamu.
Teruntukmu…
Baca juga: Pimpin BBGRM di Kali Boni Camat Insana Tekankan Semangat Gotong Royong dan Antisipasi Longsor
Yang lagi memadu mesra dengan mendung beralasan hujan.
Yang lagi menikmati angin musim beralasan kesejukan.
Yang berteduh dibawa atap beralasan tak ingin tersakiti mentari.
Teruntuk senyum beralasan bahagia.
Teruntuk tertawa beralasan senang..
Teruntuk air mata beralasan perihnya kalbu.