Antologi Puisi ||Erwin Pitang||

Ilustrasi

Untuk kita yang lagi memadu waktu.
Jangan biarkan jarum jam memulai dari nol.
Karena apa artinya kehampaan jika satu titikpun belum kamu torehkan?

#Stay at home.
Untuk waktu yang kamu jalani. Jangan sesalkan itu. Tetap dengan jarum jam dan tempo yang sama.
Karena kesetiaan tak akan dipermainkan oleh waktu.

 

PUISI PAGI.

Pagi antara ingin ..
angan…
angin..yang merasuk sukma dan tubuh.
Berbantalkan bisu dikamar sepi.
Tersiram genangan syair dihujan pagi.
Aku hanyalah bantal yang hanya tertindih pilu ketika malam dan tertindih bisu ketika pagi.

Dengan pagi aku bergerutu soal kemesraan pagi yang tak sempat kunikmati.
Apalagi kamu yang masih saja enggan berselubungkan kain ungu untuk mimpi kita semalam.
Tentu masih saja aku terbujur manis didepan wajahmu bunga tidurku.

Didepan teras rumah kita masih saja angin yang membawa pergi sehelai rambutmu enggan datang.
Dan air yang tergenang di bidang wajahmu tak kunjung pulang.
Akulah perantau yang tersakiti karena mimpi yang masih saja mengelus ingin yang tak sampai.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru