Antologi Puisi ||Erwin Pitang||

Ilustrasi

Masih adakah cahaya dibalik mendung yang menghambat senyummu.
Masih adakah air mata dibalik awan hitam yang tertumpul di matamu.
Adakah pelangi itu tersimpan dibalik matamu?
Ataukah harus kulewati awan dan hujan untuk bertemu dengan pelangi itu.
Tentu tak perlu kutanyakah sejauh mendung beri arti tentang pelangi yang kita tunggu bukan?

Kitapun sampai pada saat dimana.
Telah kau lewati hari yang membelenggu segenap jiwamu..
Untuk hari ini ..
Masih ada yang tersisa jangan menyerah

 

PUISI PAGI

Jendela sunyi membekuk mimpi semalam yang tinggal kenangannya jauh diujung sana…..
Dengan selimut sepi aku masih berujar tentang pagi yang membius urat nadiku.
Sedang masih saja samar tentang pagimu dalam raut mimpiku yang muram.
Tentu tak ingin pula kabut menghilangkan jejakmu dariku meski dingin terlampau menyakitimu.

Untuk kesekian kalinya gerimis yang bertukar sepi dan dingin yang berrapal ingin.
Masih saja aku tentang pagi yang rancau.
Dan sukma yang terlukis mawar hitam.
Namun jauh sebelumnya..
Pagimu sudah kurangkai menjadi yang terindah.

Demikian menjadikanmu abadi adalah dengan berbicara jujur tentang pagi yang dingin dan ingin yang tak sendiri.
Adalah tentangmu..
Dingin berarti kerinduan…
Dan ingin adalah kesepian..

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru