Antologi Puisi ||Erwin Pitang||

Ilustrasi

Namun untuk pagi..
Adalah hujan yang romantis jika kubiarkan kisah kita bermandi dan berkejaran di bawah air hujan.
Sedang kutunggu pelangi jiwamu.
Sehabis tetesan air berlalu pergi meninggalkan setumpuk cerita kita..

 

Nyanyian malam

Dengan bisu kamu mengartikan nadamu.
Dengan senyap kamu artikan dendangmu.
Kami hanyalah penikmat yang tiap tasbihmu teriring malam yang selalu.

Apa yang tak tertatap akhirnya datang.
Dengan melodi yang sama.
Tuaian kalbu yang tertutup lusuh.
Mungkinkah nyanyianmu bisa kumengerti?

 

Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru