PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Kabupaten Sikka, mendadak menjadi pusat episentrum diskursus kebangsaan. Dihadiri ribuan audiens dari kalangan mahasiswa, jurnalis, hingga akademisi, hari pertama Side Events Konferensi Republik yang dihelat pada Jumat, 30 Oktober 2026, bergemuruh dengan semangat “Mari Berjejaring & Mulai Bertindak”.
Bukan sekadar ajang seremonial, forum ini menjelajah jauh ke dalam akar persoalan republik: mulai dari cengkeraman resentralisasi anggaran, ancaman militerisasi, rapuhnya kepercayaan ekonomi, hingga sejarah peranan penting Flores yang kerap terpinggirkan dari kebijakan pusat.
Menagih Kebijakan yang Berorientasi Etis
Baca juga: Perdana Terjun ke Dunia Film, Arys Hayon Sukses Produseri Film ‘Anak Babi Bapa”
Membuka konferensi, Ketua Panitia Konferensi Republik sekaligus Rektor IFTK Ledalero, Pater Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, mengingatkan kembali esensi dasar berdirinya sebuah negara. Mengutip konsep Politeia (Republik) karya Plato, Pater Otto menegaskan bahwa kekuasaan politik mutlak membutuhkan kebijaksanaan, refleksi kritis, dan orientasi etis.
”Republik bukan sekadar warisan sejarah yang harus dipertahankan, melainkan sebuah cita-cita bersama yang harus terus diperjuangkan. Republik akan tetap hidup selama rakyat memiliki kedaulatan, hukum membatasi kekuasaan, pengetahuan membimbing kebijakan, dan keadilan menjadi orientasi kehidupan bersama,” tegas Pater Otto di hadapan ribuan peserta.
Senada dengan hal tersebut, Rektor Universitas Nusa Nipa Maumere, Jonas K. G. D. Gobang, mengangkat filosofi lokal masyarakat Flores sebagai “Nusa Nipa” (Pulau Naga) yang sarat makna keutuhan kosmos dan kehormatan wilayah. Ia mengingatkan bahwa cinta tanah air yang dewasa tidak pernah memejamkan mata terhadap luka-luka bangsa.
Baca juga: Film 'Anak Babi Bapa' Lolos Nominasi Nasional, Yansen Paji: Ini Adalah Film Pertama
”Mencintai republik ini bukan berarti memejamkan mata terhadap luka-lukanya, Cinta yang dewasa tidak meniadakan kritik, justru ia melahirkan keberanian untuk mengoreksi yang keliru,” ujar Jonas.