Setiap tanggal 17 Agustus, lapangan di berbagai penjuru negeri berubah menjadi panggung ingatan. Upacara bendera digelar bukan sekadar untuk baris-berbaris, melainkan untuk merawat memori kolektif tentang runtuhnya kolonialisme. Namun, sebuah potret kontras yang kerap berulang memicu gugatan moral: barisan pelajar yang mandi keringat di bawah terik matahari, berhadapan dengan tenda teduh para pejabat yang dilengkapi kursi nyaman dan hidangan enak.
Bagi banyak dari kita, pemandangan dalam ilustrasi ini bukan hal baru. Ini adalah luka lama yang terus berulang sejak kita masih duduk di bangku SD, SMP, hingga SMA.
Kesaksian Dari Lapangan: Ketika Kedisiplinan Menjadi Siksaan
Kita tentu masih ingat bagaimana rasanya menjadi anak sekolah yang berdiri di barisan itu. Aturan protokoler mewajibkan kita sudah tiba di lokasi sejak jam 6 pagi. Banyak teman-teman yang bahkan tidak sempat sarapan karena didera ketakutan akan sanksi terlambat. Begitu jam menunjukkan pukul 7 pagi, tubuh-tubuh kecil itu sudah dipaksa berdiri tegak, merapikan barisan di bawah instruksi yang kaku.
Baca juga: Mitos Tuan Rumah dan Tragedi Keadilan Substantif
Ironisnya, semua pengorbanan fisik itu sering kali hanya untuk menunggu. Kita dipaksa berdiri berjam-jam demi menanti kedatangan Bupati atau pejabat daerah yang bertindak sebagai Inspektur Upacara. Ketika beliau baru tiba dengan kawalan mobil mewah sekitar jam 8 pagi, kondisi di lapangan sudah berubah menjadi ruang penyiksaan batin dan fisik. Matahari mulai menyengat, perut kosong mulai melilit, dan pemandangan satu atau dua anak sekolah yang tumbang lalu pingsan di tengah lapangan menjadi pemandangan yang dianggap “wajar” setiap tahunnya.