Di saat anak-anak dievakuasi ke tenda medis dengan kondisi lemas, di sudut lain, para pejabat melangkah anggun menuju tenda VIP yang teduh, bersiap menikmati kudapan dan minuman dingin.
Nasionalisme Yang Horizontal Vs Vertikal
Secara filosofis, esensi dari sebuah bangsa-seperti yang pernah ditulis oleh pemikir Benedict Anderson-adalah adanya rasa persaudaraan yang mendatar (horizontal). Di hadapan simbol negara seperti bendera merah putih, derajat kemanusiaan seorang bupati, menteri, buruh, hingga anak SD adalah setara.
Namun, tradisi menjemur anak sekolah ini justru mempertegas batas vertikal (kasta). Nasionalisme seolah dibagi menjadi dua kategori yang timpang. Bagi rakyat dan generasi muda, nasionalisme diukur dari kepatuhan mutlak dan kesiapan untuk menderita secara fisik. Sementara bagi elite birokrasi, nasionalisme dirayakan sebagai hak istimewa yang penuh fasilitas. Ketika sebuah ritual kenegaraan justru melestarikan sekat kelas sosial dan mengorbankan kesejahteraan fisik anak-anak, nilai sakral dari persaudaraan kebangsaan itu runtuh. Upacara berubah menjadi teatrikal kekuasaan belaka.