Menuntut disiplin dari anak-anak bangsa tanpa diimbangi oleh empati dan perlindungan terhadap fisik mereka adalah sebuah ketimpangan moral yang nyata. Nasionalisme abad ini seharusnya bergerak ke arah yang lebih humanis dan adil. Menghormati jasa pahlawan tidak harus dilakukan dengan cara menumbangkan fisik generasi penerus demi estetika sebuah formalitas seremoni.
Kemerdekaan sejati baru akan terasa nyata ketika para pemimpin kita memiliki keberanian etis: entah itu dengan datang tepat waktu secara konsisten, ikut berdiri merasakan terik matahari yang sama di lapangan, atau minimal memastikan seluruh anak sekolah yang hadir mendapatkan hak hidrasi, tempat teduh, dan perlindungan yang setara. Selama sekat kemewahan itu masih dipelihara di atas penderitaan fisik anak-anak sekolah, upacara kemerdekaan akan selalu menyisakan tanya: untuk siapa sebenarnya kemerdekaan ini dirayakan?