“Saya selaku pemuda yang berasal dari Pocoleok punya tanggungjawab moral untuk bersuara dalam forum forum seperti ini, tetapi secara pribadi saya jelas menolak apapun jenis dan kegiatan yang terkait pembangunan geotermal di Poco Leok. Dialog ini bukan pertama kali, dengan demonstrasi sudah kami lakukan, banyak kekerasan yang terjadi dialami masyarakat,”
Munculnya proyek geotermal ini, dinilai merusak keharmonisan kedamaian dan ketentraman yang dari telah dijaga oleh masyarakat Poco Leok.
Menanti Penyelesaian Konflik yang Berkeadaban
Kehadiran tiga perguruan tinggi Katolik dalam penyelenggaraan forum ini diharapkan mampu menghadirkan perspektif akademis yang netral, memurnikan niat para pemangku kepentingan, serta menjamin ruang demokrasi yang aman bagi warga untuk bersuara.
Kesaksian dari Atadei dan Poco Leok dalam forum di Kampus 2 IFTK Ledalero ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dan pengembang proyek bahwa penyelesaian konflik geotermal di Nusa Tenggara Timur tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis dan ekonomi, melainkan harus menghormati memori kolektif, aspek keselamatan ekologis, dan keharmonisan sosial masyarakat adat setempat.