“Kesaksian kedua, di Atakore Watuwawer itu, mereka berhasil untuk bor air, tetapi yang terjadi mata air itu menjadi kering dan tidak ada apa apa lagi,” jelasnya.
Atas dasar trauma masa lalu dan potensi ancaman lingkungan tersebut, masyarakat Atadei menyatakan sikap tegas untuk menolak dan meminta seluruh aktivitas pengeboran dihentikan.
Poco Leok: Luka Konflik Sosial dan Suara Pemuda
Dari wilayah Manggarai, suara penolakan tidak kalah nyaring disampaikan oleh Erwin, seorang pemuda asli Poco Leok. Erwin menegaskan kehadirannya bukan untuk mewakili pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang putra daerah yang tumbuh dan menetap di Poco Leok.
Erwin membeberkan bahwa dari 14 wilayah adat (Gendang) yang ada di Poco Leok, sebanyak 10 Gendang telah menyatakan penolakan secara tegas dan tanpa syarat terhadap proyek geotermal.
“Proyek ini telah meninggalkan luka yang sangat dalam bagi kami. Situasi keharmonisan, kedamaian, dan ketentraman yang sejak dulu dijaga oleh tetua adat dan warga kami, kini rusak dan terus terusik akibat rencana pembangunan geotermal ini,” ungkap Erwin.
Lebih lanjut, Erwin menyoroti kejenuhan warga terhadap berbagai bentuk forum dialog yang dinilai sering kali tidak memihak aspirasi masyarakat.