“Melalui sosialisasi ini, kami ingin memperkuat kompetensi penyuluh agar memiliki persepsi yang sama dalam mendampingi umat. Penyuluh agama harus menjadi garda terdepan dalam menghadirkan pelayanan yang sesuai dengan Pedoman Umum Misale Romawi dan Tata Perayaan Ekaristi sehingga pembinaan umat berlangsung secara benar, tertib, dan membangun kesatuan Gereja,” ujar Paulus.
Menurutnya, hasil kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi diterapkan secara nyata dalam pelayanan di paroki. Penyuluh agama diharapkan menjadi pelopor keseragaman praktik liturgi sekaligus mampu meluruskan berbagai praktik yang belum sesuai dengan ketentuan Gereja melalui pendekatan yang edukatif dan pastoral.
Dalam pemaparannya, RD. Paulus Yohanes Gelang Lewoema menegaskan bahwa Pedoman Umum Misale Romawi dan Tata Perayaan Ekaristi edisi revisi merupakan pedoman resmi penyelenggaraan liturgi Gereja. Penyuluh agama, katanya, memiliki tanggung jawab sebagai pendidik iman sekaligus pelopor kesatuan praktik liturgi di tengah umat.
Selain membahas makna setiap bagian Perayaan Ekaristi, narasumber juga mengulas pemilihan lagu liturgi yang sesuai dengan teks resmi Gereja serta pentingnya partisipasi aktif umat dalam perayaan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas berbagai persoalan pastoral yang kerap ditemui di lapangan, mulai dari lagu Kudus, Bait Pengantar Injil, Misa tematik, hingga penggunaan musik dalam Perayaan Kamis Putih. Seluruh pembahasan mengacu pada Pedoman Umum Misale Romawi sehingga peserta memperoleh pemahaman yang seragam mengenai praktik liturgi yang benar.