Ketika Nurani Bangsa Menangis |Antologi Puisi Martin Meli|

"Pancasila duduk di sudut sejarah,

Memandang anak-anak bangsa yang kian berubah.

Ia tidak marah, tidak pula membantah,

Namun matanya basah menyaksikan arah yang mulai goyah".
Martin Meli. Penulis, berasal dari Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Saat ini ia adalah mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero yang menekuni studi teologi. Ia memiliki minat pada dunia pendidikan, refleksi iman dan pengabdian kepada masyarakat.

Ataukah hanya menjadi slogan yang luhur,

Sementara kenyataan terus mengikis maknamu yang subur?

 

Jika Pancasila benar-benar hidup di dada bangsa,

Tak ada yang tinggi karena kuasa,

Tak ada yang rendah karena harta,

Dan Indonesia akan menjadi rumah bagi semua.

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler