Pancasila duduk di sudut sejarah,
Memandang anak-anak bangsa yang kian berubah.
Ia tidak marah, tidak pula membantah,
Namun matanya basah menyaksikan arah yang mulai goyah.
“Aku lahir dari perjuangan,” katanya perlahan,
“Dari darah, air mata, dan pengorbanan.