Ia juga menyoroti bahaya ketimpangan sosial yang lahir dari dominasi kelompok yang disebutnya sebagai “kaum serakahnomic”, yakni pihak-pihak yang menguasai ekonomi tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat luas. Karena itu, ia menilai budaya dan literasi publik perlu diperkuat sebagai fondasi membangun masyarakat yang berdaulat dan berkeadilan.
Anisa mengapresiasi konsistensi PDS H.B. Jassin dalam menjaga ruang kebudayaan dan literasi di Indonesia. Ia berharap ruang-ruang diskusi seperti ini dapat menjadi tempat lahirnya gagasan kritis sekaligus memperkuat kesadaran sosial masyarakat di tengah perkembangan teknologi.
Diskusi kebudayaan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Yuni Asrianti, Sonny Laurentius, Beky Mardani, dan Dominggus Oktavianus.
Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan DPD Jaker se-Indonesia, mahasiswa, jurnalis, komunitas literasi, serta masyarakat umum yang antusias mengikuti jalannya diskusi hingga akhir acara.
Melalui forum tersebut, para peserta diajak untuk merefleksikan kembali posisi kebudayaan di tengah era digital, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam merawat ingatan bangsa agar tidak larut dalam budaya instan yang mengikis nilai dan identitas masyarakat.
