Percaya Diri Tanpa Kapasitas: Wajah Baru Krisis Publik || Opini Mariady Fransiskus Bata, Aktivis Gen Z di Maumere

Penulis

Di sektor pendidikan, dampaknya jauh lebih serius. Sekolah-sekolah di wilayah terpencil, termasuk di Nusa Tenggara Timur, membutuhkan guru yang adaptif, kreatif, dan benar-benar menguasai materi. Namun, jika tenaga pendidik hadir sekadar menggugurkan kewajiban, maka yang dirugikan adalah generasi muda. Anak-anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan bermutu, padahal pendidikan merupakan jalan utama untuk keluar dari ketertinggalan.

Fenomena ini juga sangat relevan di era media sosial. Banyak orang merasa cukup membaca judul berita, lalu menganggap dirinya ahli ekonomi, hukum, kesehatan, bahkan politik. Mereka berbicara dengan tegas, tetapi miskin kedalaman. Dalam ruang digital, rasa percaya diri sering lebih cepat viral daripada akurasi.

Pandangan serupa dijelaskan Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow. Kahneman menyebut manusia sering menggunakan pola pikir cepat, intuitif, dan impulsif (System 1), sementara pola pikir lambat, kritis, dan analitis (System 2) justru jarang dipakai. Akibatnya, banyak keputusan publik dibuat berdasarkan kesan sesaat, bukan penalaran matang.

Di lingkungan kerja dan birokrasi, inkompetensi juga memiliki pola yang sistematis. Laurence J. Peter dan Raymond Hull melalui The Peter Principle menjelaskan bahwa dalam organisasi, seseorang cenderung terus dipromosikan sampai mencapai posisi ketika ia tidak lagi kompeten.

Teori ini menjelaskan mengapa seseorang yang hebat sebagai staf belum tentu berhasil sebagai pemimpin. Keahlian teknis tidak otomatis berubah menjadi kemampuan manajerial. Namun, banyak organisasi keliru memahami promosi sebagai hadiah, bukan penempatan berbasis kapasitas. Akibatnya, jabatan strategis diisi oleh orang yang berhasil di masa lalu, tetapi gagal menghadapi tantangan baru.

Pakar manajemen Peter Drucker dalam The Effective Executive menegaskan bahwa efektivitas bukan soal sibuk bekerja, melainkan kemampuan mengambil keputusan yang tepat dan menghasilkan dampak nyata. Jabatan tinggi tanpa kompetensi hanya akan melahirkan keputusan mahal yang salah arah.

Masalah menjadi lebih serius ketika masyarakat mulai meremehkan keahlian. Tom Nichols dalam The Death of Expertise menyebut zaman ini sebagai masa menurunnya penghargaan terhadap pengetahuan. Banyak orang menempatkan opini pribadi setara dengan hasil riset para ahli. Semua merasa berhak bicara, tetapi tidak semua memiliki kapasitas memahami.
Di titik inilah demokrasi informasi dapat berubah menjadi kekacauan informasi. Fakta diperdebatkan seolah sekadar preferensi. Data disamakan dengan perasaan. Kompetensi dikalahkan oleh popularitas.

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru