Percaya Diri Tanpa Kapasitas: Wajah Baru Krisis Publik || Opini Mariady Fransiskus Bata, Aktivis Gen Z di Maumere

Penulis

Dari sudut filsafat moral, Immanuel Kant menekankan pentingnya rasionalitas dan tanggung jawab dalam bertindak. Menurut Kant, manusia harus menggunakan akal budi secara dewasa, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat atau kepentingan pribadi. Jika prinsip ini diterapkan di ruang publik, maka setiap keputusan seharusnya lahir dari pertimbangan rasional, bukan sekadar pencitraan.

Meski demikian, perlu ditegaskan bahwa tidak semua kekurangan adalah inkompetensi. Keterbatasan fasilitas, minimnya anggaran, atau sulitnya akses geografis merupakan realitas objektif di banyak daerah, termasuk NTT. Inkompetensi terjadi ketika seseorang tidak mampu, tetapi menolak belajar; tidak paham, tetapi enggan mendengar; gagal, tetapi sibuk mencari alasan.

Lalu, bagaimana jalan keluarnya?

Pertama, membangun budaya meritokrasi. Posisi penting harus diisi oleh orang yang mampu, bukan yang paling dekat dengan kekuasaan. Max Weber dalam teori birokrasi modern menegaskan bahwa jabatan seharusnya diisi berdasarkan kualifikasi teknis dan profesionalisme, bukan patronase atau kedekatan personal.

Kedua, menghidupkan budaya kritik yang sehat agar kesalahan dapat dikoreksi. Kritik bukan ancaman, melainkan alat evaluasi untuk memperbaiki sistem.

Ketiga, menumbuhkan kerendahan hati intelektual. Kesadaran akan batas diri adalah tanda kecerdasan, bukan kelemahan. Socrates pernah berkata, “Aku tahu bahwa aku tidak tahu.” Kalimat sederhana ini justru menjadi ukuran kedewasaan berpikir. Orang bijak sadar akan keterbatasannya, sedangkan orang sembrono merasa dirinya telah selesai belajar.

Daerah seperti Nusa Tenggara Timur memiliki potensi besar: pariwisata, pertanian, perikanan, budaya, serta generasi muda yang tangguh. Namun, seluruh potensi itu akan tertahan jika dikelola oleh tangan-tangan yang tidak siap. Kemiskinan, keterisolasian, dan ketertinggalan sering kali bukan hanya soal kurangnya sumber daya, tetapi juga lemahnya kapasitas pengelolaan.

Pada akhirnya, ancaman terbesar dari inkompetensi bukan sekadar kesalahan hari ini. Ancaman terbesarnya adalah hilangnya peluang masa depan. Sebab, sebuah daerah tidak selalu kalah karena kekurangan potensi, tetapi sering kalah karena salah dikelola.

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru