Selain gerakan membaca, program wisata literasi dan sains juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi yang lebih utuh. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui kunjungan ke perpustakaan, taman baca, dan ruang-ruang edukatif lainnya.
“Literasi tidak lagi kaku, tetapi hidup dan menyenangkan,” kata Very.
Ia menegaskan bahwa meskipun terlihat sederhana, inovasi yang dilakukan melalui program ini memiliki potensi dampak besar jika dijalankan secara konsisten. Kesederhanaan pendekatan justru menjadi kekuatan utama dalam membangun kebiasaan baru di lingkungan pendidikan.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dengan pendekatan ini, mindset siswa mulai bergeser dari belajar karena kewajiban menjadi belajar karena kebutuhan dan kesadaran,” jelasnya.
Very juga mengajak seluruh pihak untuk terlibat aktif dalam mendukung implementasi program tersebut.
“Kami mengajak kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan surat edaran ini. Literasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi gerakan kolektif yang membutuhkan dukungan semua pihak,” tegasnya.
Ke depan, keberhasilan gerakan ini akan sangat ditentukan oleh komitmen bersama seluruh elemen masyarakat. Harapannya, Kabupaten Sikka mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
