Tangannya retak seperti tanah Mapitara kemarau,
tapi dari tangan itu
keluar “lele tubung”, ikan teri, dan peluk yang tak minta balasan.
Ia simpan surat anaknya di peti,
dibaca ulang tiap malam meski buta huruf.
Karena Ina baca dengan hati,
bukan dengan mata.
Kalau senja turun di Teluk Maumere,
Ina nyalakan lampu teplok,
bukan untuk mengusir gelap,
tapi supaya jalan pulang anaknya tetap terang
meski anaknya tak pernah janji kembali.
Ina,
kau ajarkan kami bahwa sunyi bukan kosong.
Sunyi itu kau,
menunggu tanpa lelah,
mencintai tanpa syarat,
seperti mercusuar tua
yang tetap menyala
walau tak ada kapal yang lewat.
Dan kalau Tuhan tanya siapa paling kuat di Sikka,
aku akan tunjuk rumahmu,
di mana seorang Ina
menenun hidup kami
dari benang air mata
menjadi selimut yang hangat.
—
Catatan kecil:
Ina = Mama
Utan suta = sarung tenun khas Sikka. Lele tubung = jagung tumbuk
Jakarta, 22 April 2026
Klik link ini untuk berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com
