PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Puisi berjudul Ina karya Arnol Bewat menghadirkan kisah menyentuh tentang sosok mama dalam balutan kenangan dan kerinduan yang mendalam.
Melalui simbol sarung tenun, puisi ini tidak sekadar bercerita tentang kasih seorang ibu, tetapi juga tentang jejak budaya, pengorbanan dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Dalam setiap baitnya, pembaca diajak menyelami emosi kehilangan, rindu yang tak lagi bisa terobati oleh kehadiran. Sarung tenun yang digambarkan menjadi metafora kuat, mengikat ingatan akan kehangatan rumah, kerja keras seorang ibu serta nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Kumpulan Puisi Kartini Felix Riondi Sugar dan Fransiska Atrince Gamo
Puisi ini menjadi ruang refleksi, bahwa sosok mama bukan hanya bagian dari masa lalu tetapi tetap hidup dalam kenangan, doa dan setiap helai kisah yang tak pernah benar-benar pergi.
INA
By. Arnold Bewat
Di beranda rumah panggung beratap rumbia,
Ina duduk menyilang kaki,
menenun waktu di lembar utan suta.
Setiap benang merah yang ia tarik
adalah doa yang tak sempat ia ucap:
“Biar anak pulang sebelum angin barat datang.”
Baca juga: Identitas Pastor di NTT yang Diduga Digerebek Warga saat Berduaan Bersama Perempuan dalam Rumah
Ina tak pernah sekolah tinggi,
tapi ia hafal musim lewat rasa asin di bibir.
Ia tahu kapan laut marah,
kapan kebun minta hujan,
kapan anaknya lapar meski jauh di rantau.
