Renungan Harian Katolik Rabu 9 September 2026

Lukas 6:20-26
Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. (TB Luk 6:20)

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Sabda Yesus hari ini mungkin membuat kita bertanya: Bagaimana mungkin orang miskin disebut berbahagia? Bukankah kemiskinan sering berarti kekurangan, kesulitan, dan perjuangan hidup? Yesus tentu tidak sedang mengatakan bahwa kekurangan atau penderitaan itu sendiri adalah sesuatu yang membahagiakan. Yang Yesus nyatakan adalah bahwa orang miskin memiliki tempat yang istimewa dalam hati Allah. Mereka yang tidak memiliki banyak sandaran duniawi diajak untuk menaruh harapan kepada Allah. Karena itu, kebahagiaan mereka bukan terletak pada apa yang mereka miliki, tetapi pada Allah yang menjadi sandaran dan Kerajaan-Nya yang menjadi milik mereka.

Dalam terang Injil, “miskin” juga menyentuh sikap hati: miskin di hadapan Allah, yaitu menyadari bahwa kita tidak mampu mengandalkan diri sendiri sepenuhnya dan bahwa kita membutuhkan Tuhan. Orang yang merasa dirinya sudah memiliki segalanya bisa menjadi sulit membuka hati kepada Allah. Sebaliknya, orang yang sadar bahwa dirinya membutuhkan Tuhan akan lebih mudah menerima kasih, pertolongan, dan rahmat-Nya. Maka “bahagia” bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan memiliki keyakinan bahwa dalam segala keadaan kita tidak pernah sendirian. Allah hadir, memperhatikan, dan menjanjikan Kerajaan-Nya kepada mereka yang berharap kepada-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik, Sabtu 29 Agustus 2026

Karena itu, sabda Yesus tidak berhenti pada hubungan kita dengan Allah, tetapi juga mengubah cara kita memperlakukan sesama. Kalau Allah berpihak kepada mereka yang miskin dan tersisih, kita pun tidak boleh menutup mata terhadap mereka. Kita dipanggil untuk membangun kehidupan yang lebih adil, berbagi dengan yang kekurangan, mendekati mereka yang disingkirkan, dan membuat tidak seorang pun merasa tidak berharga. Kita tidak boleh mengatakan, “Mereka miskin, maka mereka harus menerima nasib.” Justru Injil mengajak kita bertanya, “Apa yang dapat kulakukan agar mereka mengalami kasih dan perhatian Allah melalui hidupku?” Dengan demikian, Kerajaan Allah mulai hadir di tengah dunia melalui solidaritas dan kasih kita.

Pada akhirnya, Yesus mengajak kita mengubah ukuran kebahagiaan. Dunia berkata: bahagia kalau memiliki banyak. Yesus berkata: bahagia ketika hati kita memiliki Allah. Dunia mengejar pengakuan, kekuasaan, dan kenyamanan; Yesus mengajak kita untuk menjadi rendah hati, berbagi, dan peduli kepada mereka yang membutuhkan. Menjadi “miskin” di hadapan Allah berarti memiliki hati yang tidak penuh dengan kesombongan, tetapi selalu menyediakan ruang bagi Tuhan dan bagi sesama.

Baca juga: Renungan Harian Katolik, Kamis, 20 Agustus 2026

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru