PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Pemerintah Kabupaten Sikka menegaskan bahwa fokus penanganan bencana saat ini telah bergeser dari pengungsian terpusat menuju tahap transisi pemulihan. Seiring berahirnya masa tanggap darurat pada 11 mendatang, Pemkab memprioritaskan bantuan logistik dan perbaikan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan.
Pernyataan ini merespons adanya laporan warga di Wolomarang yang mengaku belum tersentuh bantuan dan diminta kembali ke rumah oleh pemerintah setempat.
Pelaksana Tugas (Plt.) Sekda Kabupaten Sikka sekaligus Kasatgas Penanganan Bencana Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, menjelaskan bahwa seluruh pusat pengungsian pasca-tanggap darurat tahap pertama sebenarnya telah dikosongkan. Pengungsian mandiri yang tersisa hanya berada di Palue, Kangae, dan Nita dengan jumlah yang terus berkurang.
Baca juga: Gunung Ile Lewotolok di Lembata Erupsi, Tinggi Kolom Abu Ancam Warga, Ini Himbauan PVMBG
”Memang setelah pasca tanggap darurat tahap 1, itu pengungsi sudah pulang semua ke rumah masing-masing, kemudian, yang terpusat masih di tiga lokasi Palue, Kangae, dan Nita. Tapi jumlahnya juga berkurang. Itu adalah masyarakat yang terdampak dan dalam kondisi adanya kerusakan rumah,” ujar Margaretha.
Prioritas Bantuan untuk Rumah Rusak
Saat ini, Pemkab Sikka tengah memverifikasi dan memvalidasi sekitar 8.000 data warga dari tingkat kecamatan yang melaporkan kerusakan rumah—baik rusak berat, sedang, maupun ringan. Menurut Margaretha, warga dengan kategori rumah rusak inilah yang menjadi fokus utama penyaluran logistik karena mata pencaharian dan kehidupan sehari-hari mereka terganggu secara langsung.
Baca juga: Lamban Tangani Kasus Persetubuhan Anak Sejak 2022, Kuasa Hukum Desak Polres Sikka Terbitkan DPO
”Jadi bagi masyarakat yang memang memiliki rumah rusak diakibatkan karena gempa, itu paralel tahap 1 sudah proses pendataan. Dalam waktu dekat kita akan umumkan begitu juga uji publiknya. Nanti setelah penetapan SK Bupati, langsung mulai proses untuk pembangunan,” jelasnya.
