PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Larantuka – Dana bantuan Presiden Prabowo sebesar Rp20 miliar untuk warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi di Flores Timur mendapat sorotan dari DPC GMNI Flores Timur.
Ketua DPC GMNI Flores Timur Krisantus Kenato menyoroti ketimpangan prioritas anggaran.
“Dari total Rp20 miliar, pos Sarana Prasarana dialokasikan Rp6,75 miliar dimana di dalamnya ada pengadaan excavator Rp5 miliar atau 25% dari keseluruhan dana. Pertanyaannya, apakah ini mendesak? Saat ini 790 KK masih berada di Huntara. Kebutuhan air bersih, listrik dan hunian tetap jauh lebih urgen,” ujar Krisantus.
“Seharusnya anggaran excavator dievaluasi dan dialihkan. Kami khawatir jika tidak dievaluasi, pos ini akan menjadi alat proyek. Bagaimana mungkin sasaran bantuan adalah rakyat terdampak bencana, tetapi Pemda mengadakan excavator secara sepihak tanpa survei langsung ke lapangan untuk mengetahui kebutuhan yang paling urgent?” lanjutnya.
Krisantus juga menyoroti urusan dasar pengungsi yang belum selesai. “Hingga 2026 baru 5 hektar lahan Huntap yang disiapkan. Sementara waktu sewa Huntara hampir habis. Jika Rp20 miliar tidak difokuskan ke sini, maka pengungsi akan terus berada dalam ketidakpastian,” tegasnya.
Terkait peruntukan, Krisantus mengingatkan. “Berdasarkan keterangan Bupati tanggal 29 Agustus 2026, dana ini untuk penyangga logistik dan korban erupsi Lewotobi. Penggunaannya harus sesuai. Jangan sampai melenceng ke program lain. Jika prioritas salah di awal, dampaknya panjang. Uang habis untuk beli aset, tapi kebutuhan dasar 790 KK tidak selesai. Dana bencana harus diukur dari seberapa cepat warga bisa pulang ke rumah,” pungkasnya.
Sejalan dengan itu, Sekretaris DPC GMNI Flores Timur, Maria Margaretha Masa Baodai menyoroti aspek transparansi dan akuntabilitas.
Baca juga: Bupati Sikka Lakukan Trauma Healing Bersama Siswa SMPK Frater Maumere dan SDI Iligetang
“Pos Jaminan Hidup Rp5,8 miliar nilainya besar. Tapi sampai hari ini publik tidak tahu siapa penerimanya. GMNI meminta data By Name By Address dibuka agar tidak ada tumpang tindih dan tidak ada titipan,” kata Maria.
