PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Manggarai Timur, 29 Agustus 2026 — Kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana gempa bumi Flores kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Tim gabungan yang terdiri dari JPIC SVD Ende, SSpS Flores Bagian Timur, Truk-F, dan para Frater Seminari Ledalero melaksanakan misi kemanusiaan dengan mendistribusikan bantuan bagi warga terdampak gempa bumi di Desa Teno Mese, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.
Rombongan berangkat dari Ledalero pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 07.15 WITA. Perjalanan menuju Desa Teno Mese cukup panjang dengan medan yang menantang. Jalan yang berliku dan kondisi geografis wilayah menjadi bagian dari perjalanan misi kemanusiaan tersebut. Meski demikian, semangat untuk menjumpai dan membantu masyarakat yang sedang mengalami penderitaan membuat rombongan tetap melanjutkan perjalanan.
Rombongan tiba di wilayah Kecamatan Elar Selatan sekitar pukul 21.30 WITA. Misi kemanusiaan ini dikoordinasikan oleh Fr. Eyo Galus, SVD, dan melibatkan para pater, suster, frater, serta sejumlah mitra awam yang turut mengambil bagian dalam pelayanan bagi masyarakat terdampak bencana.
Baca juga: Bupati Sikka Lakukan Trauma Healing Bersama Siswa SMPK Frater Maumere dan SDI Iligetang
1.307 Jiwa dan 355 KK di Teno Mese
Desa Teno Mese terdiri atas empat dusun dengan jumlah penduduk sebanyak 1.307 jiwa yang tergabung dalam 355 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, terdapat 700 laki-laki dan 607 perempuan. Kelompok yang cukup rentan dalam situasi pascabencana adalah bayi dan balita yang berjumlah 135 orang.
Kondisi masyarakat semakin memprihatinkan karena gempa bumi turut menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan tempat tinggal warga. Berdasarkan data yang dihimpun di wilayah tersebut, tercatat 34 bangunan mengalami rusak berat, 25 bangunan mengalami rusak sedang, dan 75 bangunan mengalami rusak ringan.
Baca juga: PMKRI Desak Audit Forensik Pelabuhan Laurentius Say
Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Teno Mese tidak hanya menghadapi persoalan kebutuhan pangan, tetapi juga berhadapan dengan kerusakan tempat tinggal dan kondisi kehidupan yang belum sepenuhnya pulih setelah bencana. Terlebih lagi, keberadaan 135 bayi dan balita membutuhkan perhatian khusus dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan kesehatan.
