Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda lebih suka gelap atau terang? Gelap dan terang bukan sekadar lawan fisik. Dalam iman Kristiani, gelap melambangkan dosa yang memisahkan, terang melambangkan Kristus yang menyelamatkan.
Namun dalam Injil Yohanes hari ini, Yesus mengajarkan sesuatu yang lebih tajam: Kegelapan sejati bukanlah dosa masa lalu, melainkan penolakan terhadap Terang yang sudah datang.
Baca juga: Renungan Harian Katolik hari ini 27 April 2026: Kita Adalah Domba Sekaligus Gembala
Post Tenebras Lux: terang sesudah kegelapan bukan sekadar harapan, tetapi keputusan: Maukah kita keluar dari kegelapan ketidakpercayaan dan hidup dalam Terang yang adalah Kristus?” Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santa Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 12: 44 – 50, yakni Firman Yesus yang menghakimi. Para saudaraku, gelap bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan ruang HATI yang dipenuhi ambisi, harta, dan pengakuan manusia. Pelita dunia tampak menyala, tetapi bayang-bayangnya justru makin pekat.
Yesus datang bukan dengan bisikan, melainkan dengan seruan: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia percaya bukan kepada-Ku, tetapi kepada Dia yang mengutus Aku.” Terang sejati tidak setengah-setengah, juga tidak samar. Melihat Yesus berarti melihat Bapa; mendengar-Nya berarti mendengar Sang Pencipta.
Namun manusia sering memilih “setengah terang”, percaya, tetapi masih menyembah diri sendiri; ikut Yesus, tetapi masih terikat pada kemuliaan dunia. Padahal Ia berkata: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai TERANG, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Jangan menjadikan GELAP sebagai rumah lagi, sebab TERANG itu sudah datang, dan TERANG itu adalah Kristus.
