Kritik paling tajam barangkali lahir dari sebuah puisi. Puisi tidak hanya menampilkan sisi estetika melalui permainan bahasa tetapi lebih dari itu sedang menyajikan suatu kenyataan yang lebih luas.
Puisi selalu memiliki cara untuk “berbicara lebih banyak”. Leonry Un, melalui puisi-puisinya sedang berbicara banyak tentang kenyataan-kenyataan sosial yang sedang dialaminya. Melalui ruang-ruang sepi, ia tengah mempertontonkan keributan estetikal yang paling ngeri.
Puisi-puisi Leonry Un ini juga sedang membuka mata pembaca bahwa hening menjadi kesempatan untuk berbicara lebih banyak.
Baca juga: Alex Uskono dan Perjalanan Musik yang Menyatuh dari Kupang Hingga Nusantara
Berikut adalah kumpulan puisi Leonry Un yang lahir dari permenungan yang kuat dengan menampilkan konteks sosial politik yang dialami di negerinya sendiri.
S u a r a B u r u n g G a r u d a
______________________________
Kata Satu
Baca juga: KM Tidar Layani Rute Maumere, Lewoleba hingga Kupang, Ini Jadwalnya di Bulan Mei 2026
Dari relung mimpi musim kemarau
Nasib bangsa seperti dengung anak haram
Masih dahaga tuan berlabuh keluar
Karena hasrat sekeping koin pemuas birahi
Kemana hendak kalbu tuan berpaling
Rona murka sang Esa mengintai jagat kembara
