PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Saya mulai dari tradisi adat para leluhur kita. Pada saat kelahiran, kematian, pernikahan, buka kebun baru, petik hasil panen, orang tua dan para leluhur kita merayakan dengan mengajak sanak-keluarga. Berbagi rasa senang, berbagi duka juga berbagi beban.
Waktu acara nikah, kita berbagi rasa bahagia. Waktu ada kematian, kita sudah pasti berbagi duka, kesedihan yang dalam.
Pada peristiwa-peristiwa yang sa sebut di atas, punya sifat kebersamaan. Kita merayakan dengan orang lain. Orang lain itu ya kaka-ade, bapa-mama, om-tanta, para sahabat, teman, kenalan, tetangga, rekan kerja dan seterusnya. Kalo orang-orang yang kita undang datang, pasti kita sebagai tuan rumah acara bahagia.
Pada acara perkawinan dan kematian, kita orang Maumere sudah tahu adatnya bagaimana. Kita sudah tahu harus bawa apa ke sana. Mo bawa uang ka, kain ka, babi ka, sapi ka, beras ka, apa lagi? Kita tahu karena itu sudah dilakukan turun-temurun dari orangtua kita, kakek-nenek kita.
Mereka melakukan itu turun-temurun dari warisan orangtua mereka. Orangtua mereka dari orangtua mereka lagi, begitu terus. Makanya kita bilang ini warisan leluhur.
Tanggung Sama-sama
Sekarang, kita ambil contoh antar belis. Besar kecilnya belis, bisa dibayar dengan lebih mudah kalo keluarga besar dilibatkan. Setiap anggota keluarga akan menanggung bagiannya masing-masing sehingga besarnya tuntutan belis bisa dibayar. Beban jadi ringan to?
Baca juga: Ketua Panitia SI FEST: Anak Muda Harus Jadi Pelaku Transformasi Digital, Bukan Sekadar Penonton
Begitu juga saat kita mau buat pesta. Keluarga berkumpul. Mulai sudah baku bagi tugas dan tanggung jawab. Siapa tanggung apa supaya pesta yang direncanakan bisa terlaksana dengan sukses dan semua pihak senang dan bahagia.